Kariernya terus berkembang. Pada 1972, ia mengikuti Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Dua tahun kemudian, 1974, ia dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto.
Sejak itu, posisinya di tubuh militer semakin strategis.
Pada 1978, ia diangkat sebagai Kepala Staf Kodam XVI/Udayana. Setahun kemudian menjadi Pangdam IV/Sriwijaya.
Pada 1982, ia menjabat Pangdam V/Jaya di Jakarta. Tahun 1985, ia dipercaya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat.
Setahun berselang, 1986, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Pada 1988, ia mencapai puncak karier militer sebagai Panglima ABRI.
Jabatannya sebagai Panglima ABRI berakhir pada 1993.
Dari Militer ke Istana Wakil Presiden
Pada 1993, Try Sutrisno dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Presiden Soeharto.
Ia menjabat sebagai wakil presiden ke-6 hingga 1998. Masa jabatannya berakhir menjelang Reformasi, dan posisinya kemudian digantikan oleh B. J. Habibie.
Selama lebih dari empat dekade, Try mengabdikan diri di bidang militer dan pemerintahan.
Kepergiannya menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah kepemimpinan Indonesia era Orde Baru. ***





