Kesulitan anak dalam menulis tidak selalu disebabkan oleh kemalasan. Anak yang menangis ketika diminta menulis, memiliki tulisan sulit dibaca, atau kesulitan menuangkan gagasan, dapat mengalami hambatan yang perlu ditangani secara tepat.
Hal tersebut dibahas dalam bedah buku ‘Menulis Tanpa Menangis’ yang digelar Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Buku tersebut berisi ajakan guru dan orang tua memahami penyebab kesulitan menulis sekaligus alternatif penanganannya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno mengatakan bahwa buku tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini, terlebih pemerintah akan memberikan buku tulis kepada peserta didik, khususnya kelas I dan II pada tahap awal.
“Buku ini sangat relevan, sekiranya bagaimana memanfaatkan buku dan memberikan pembelajaran bagi anak-anak kita, bagaimana mengajarkan cara menulis agar kemudian tidak menjadi beban bagi anak-anak kita,” ujar Supriyatno, dikutip Jumat (21/8/2026).
Ia mengungkapkan bahwa kegiatan bedah buku merupakan agenda rutin yang dilakukan setidaknya setiap bulan untuk memperkenalkan buku-buku yang telah tersedia di platform Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI). Platform tersebut menyediakan buku teks maupun nonteks pelajaran yang dapat diakses secara gratis.
Supriyatno juga mengajak masyarakat memanfaatkan koleksi buku di SIBI yang telah memenuhi kriteria standar buku bermutu dan layak dibaca oleh peserta didik dari berbagai jenjang.
“Di platform SIBI, semua buku yang ada di sana sudah dipastikan serta dijamin bahwa buku-buku tersebut adalah buku-buku yang sudah sesuai dengan kriteria-kriteria standar buku yang bermutu dan layak dibaca oleh anak-anak kita dari seluruh jenjang,” katanya.
Sementara itu, penulis buku ‘Menulis Tanpa Menangis’ yakni Ossy yang merupakan seorang dosen Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Makassar dan Dirham sebagai guru Sekolah Khusus Negeri di Pandeglang, menjelaskan bahwa buku tersebut berangkat dari persoalan nyata yang ditemukan di lapangan. Buku dibuka dengan kisah Ocis, murid kelas III SD yang sering menangis ketika diminta menulis.
Dirham memaparkan bahwa buku tersebut menghadirkan enam kasus dengan sebab serta solusi dalam tahapan menulis dalam bentuk cerita. “Tokoh dalam buku ini adalah Ocis yang menangis setiap diminta menulis, Pinus yang menulis hingga tembus, Rimba yang kesulitan dikte dan mengeja, Bora yang menulis terlalu besar dan keluar baris, Bulan yang kesulitan mengarang, serta Bromo yang melamun setiap menulis,” jelas Dirham.





