Marak saat Agustusan, Begini Cara Aman Hadapi Bahaya Sound Horeg

Sound Horeg
Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr Rosa Falerina SpTHT BKL Subsp NO K. - Humas Unair

Paparan suara berdesibel tinggi dengan dentuman sub-bass ekstrem menyimpan potensi bahaya nyata. Mulai dari risiko tuli permanen hingga gangguan sistem keseimbangan tubuh.

Maraknya fenomena sound horeg pada perayaan HUT Kemerdekaan RI setiap bulan Agustus telah menjadi tradisi hiburan rakyat yang menyedot perhatian publik. Agar perayaan Agustusan tersebut dapat dinikmati secara aman dan nyaman oleh semua pihak, aspek keselamatan serta kesehatan pendengaran masyarakat di sekitar lokasi acara penting untuk menjadi perhatian bersama.

Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr Rosa Falerina SpTHT BKL Subsp NO K, memaparkan, bahwa paparan suara berdesibel tinggi dengan dentuman sub-bass ekstrem menyimpan potensi bahaya nyata. Mulai dari risiko tuli permanen hingga gangguan sistem keseimbangan tubuh.

Rosa menjelaskan bahwa intensitas suara sound horeg umumnya berada di atas 120 desibel, setara dengan suara mesin pesawat terbang. Paparan intensitas sekuat ini sangat membahayakan rumah siput (koklea) dan sel-sel rambut (outer hair cells) di dalamnya.

Bacaan Lainnya

“Suara yang sangat keras membuat sel rambut di dalam koklea bekerja ekstra hingga menjadi tidak bergerak (stuck) atau tumbang seperti hutan yang gundul. Jika sel-sel rambut ini rusak dan gugur, suara tidak akan memiliki jalan lagi untuk sampai ke otak,” ujar Rosa, Jumat (21/8/2026).

Ia menyebutkan bahwa fenomena telinga berdenging (tinnitus) pasca-mendengar suara keras sebenarnya merupakan bentuk alarm alami dari tubuh. “Denging itu sinyal awal bahwa sel rambut luar sedang terganggu. Jika terpaparnya singkat dan warga langsung menjauh, pendengaran masih bisa pulih. Namun jika terpapar lama dan berdengingnya menetap, gangguan pendengaran itu berisiko menjadi permanen,” jelas dosen Fakultas Kedokteran (FK) tersebut.

Lebih lanjut, selain gangguan pendengaran, dentuman bass frekuensi rendah dari sound horeg juga berpotensi memicu vertigo. Hal ini terjadi karena organ pendengaran dan sistem keseimbangan tubuh berada di lokasi yang saling berdekatan.

“Koklea itu bertetangga dengan sistem keseimbangan di telinga dalam. Dentuman yang sangat kuat tak hanya mengguncang rumah siput, tetapi juga menyenggol sistem keseimbangan sehingga memicu sensasi berputar atau vertigo,” ungkapnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan