Marak saat Agustusan, Begini Cara Aman Hadapi Bahaya Sound Horeg

Sound Horeg
Pakar Otologi dan Neurotologi Universitas Airlangga (Unair), dr Rosa Falerina SpTHT BKL Subsp NO K. - Humas Unair

Ia menambahkan pernah menangani pasien ibu dan anak yang mengalami penurunan pendengaran serta denging berkepanjangan meski sound horeg hanya sekadar lewat di depan rumah mereka.

Terkait langkah penanganan, dr Rosa menegaskan agar masyarakat yang mengalami gangguan pendengaran atau denging hebat pasca-acara tidak menunda pemeriksaan medis.

“Jika muncul keluhan, harus segera diperiksakan ke dokter THT terdekat. Kita perlu melihat kondisi fisik telinga, sebab suara ekstrem juga berisiko membuat gendang telinga robek atau pecah,” tegas Rosa.

Bacaan Lainnya

Dari segi ambang batas aman, intensitas suara di atas 120 desibel sebenarnya hanya menoleransi waktu paparan yang sangat singkat bagi manusia. Untuk kekerasan di atas 120 desibel, batas paparan aman manusia hanya sekitar 3,5 detik per hari. “Apabila terpaksa berada di lokasi, penggunaan sumbat telinga (earplug) saja tidak cukup karena hanya meredam sekitar 30 desibel, sehingga idealnya dikombinasikan dengan earmuff,” terangnya.

Meski demikian, Rosa mengingatkan bahwa alat pelindung telinga hanya menahan gelombang suara yang masuk melalui liang telinga. Gelombang suara dari sound horeg masih bisa merambat langsung ke organ dalam melalui tulang kepala.

“Suara ekstrem tetap bisa masuk melalui hantaran tulang kepala. Oleh karena itu, cara paling efektif adalah menjaga jarak, membatasi durasi paparan, serta menjauhkan kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia dari lokasi sound horeg,” pungkasnya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan