Bedah Buku ‘Menulis Tanpa Menangis’, Membongkar Penyebab Anak Enggan Menulis

Buku 'Menulis Tanpa Menangis'
Buku 'Menulis Tanpa Menangis'. - Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Ossy turut menyampaikan bahwa kesulitan menulis dapat dipengaruhi faktor internal, seperti hambatan motorik, intelektual, perkembangan bahasa dan fungsi eksekutif, disgrafia, disleksia, ADHD, autisme, serta kebutuhan khusus lainnya. Faktor lingkungan, termasuk peran guru dan orang tua, juga dapat berpengaruh.

“Kesulitan tersebut dapat muncul sejak tahap pramenulis, mengeja, menulis permulaan, hingga menulis lanjutan. Bentuknya antara lain kesulitan memegang pensil, menarik garis, menulis abjad dan kata, dikte, menyalin, hingga mengarang,” tutur Ossy.

Ossy dan Dirham bersama tim Pusat Perbukuan Kemendikdasmen menulis buku tersebut pada 2023. Penulisan berdasarkan hasil survei kebutuhan yang menunjukkan masih banyak guru menghadapi tantangan dalam menangani kesulitan belajar peserta didik. Buku ini diharapkan membantu guru dan orang tua mengenali persoalan menulis, memahami penyebabnya, serta memberikan pendampingan yang sesuai.

Bacaan Lainnya

“Kasus-kasus di buku ini berangkat dari temuan-temuan yang sering terjadi di lapangan yang kami ubah menjadi cerita fiksi,” tutur Ossy.

“Penulis melakukan observasi di sekolah dasar dan membagikan lembar kerja menulis pada beberapa jenjang. Temuan tersebut kemudian dipadukan dengan teori yang relevan dan disajikan dalam bentuk cerita,” tambah Ossy.

Dirham juga menyampaikan bahwa cerita yang dipilih agar kasus, penyebab, dan alternatif penanganan lebih mudah dipahami. “Buku ini tidak hanya ditujukan kepada guru, tetapi juga orang tua dan masyarakat umum,” ujarnya.

Melalui Pembelajaran Mendalam, murid juga diminta mengasah kemampuan menulis sebagai bagian penting dalam proses belajar. Murid tidak hanya diminta membaca, tetapi juga memahami dan membuktikan pemahamannya, salah satunya dengan menuliskan kembali isi bacaan menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian, kemampuan menulis menjadi salah satu cara untuk melihat sejauh mana peserta didik memahami materi yang dipelajari.

Supriyatno menegaskan bahwa kemampuan menulis menjadi bagian penting dalam penerapan Pembelajaran Mendalam karena mendorong peserta didik untuk menunjukkan pemahamannya secara aktif. “Dalam Pembelajaran Mendalam, anak tidak hanya membaca dan menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, dan menuangkan kembali apa yang dipelajari melalui tulisan,” ujarnya.

Pesan utama buku tersebut adalah menulis bukan hukuman dan seharusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan. Harapannya agar guru dan orang tua dapat membantu anak menulis dengan gembira dan tanpa menangis. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan