Menurut Habib Mustopo, Syekh Syamsuddin lah yang telah berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di daerah pedalaman Kediri pada abad ke-12. Dan Syekh Syamsuddin sangat dihormati masyarakat Islam di pedalaman kendati sudah meninggal.
Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Syekh Syamsuddin—yang meninggal pada abad ke-12—semula berada di tempat terbuka. Namun, makam itu kemudian dibangun oleh seorang Bupati Kediri bernama Suryo Adilogo yang beragama Islam, untuk menghormati jasa-jasa Sang Syekh. Bupati Suryo Adilogo adalah mertua Sunan Drajat, putra Sunan Ampel yang hidup di abad ke-16.
Sementara itu, menurut keterangan dalam Kakawin Hariwangsa yang ditulis oleh Mpu Panuluh, hubungan antara Syekh Syamsuddin dengan Sri Mapanji Jayabhaya digambarkan sebagai hubungan antara guru dengan murid. Kakawin tersebut menggambarkan Sri Mapanji Jayabhaya dengan kalimat, “Wisynu telah pulang ke surga tetapi turun kembali ke bumi dalam bentuk Jayabhaya pada Zaman Kali untuk menyelamatkan Jawa”. Menurut Kakawin tersebut, Sri Mapanji Jayabhaya adalah titisan Wisynu yang ditemani oleh Agastya, yang menitis dalam diri pendeta kepala Brahmin. Pendeta itu adalah penasihat raja.
Prof. Dr. Poerbatjaraka dalam Agastya in den Archipel, memaparkan hubungan Jayabhaya sebagai titisan Wisynu dengan gurunya sebagai titisan Agastya—yang mengutip sajak Kakawin Hariwangsa—sebagai berikut:
Hana desa lengong leyep langonya/ ri yawadwipa kasankhya nusa sasri/ palupuy hyang agastya tan hanoli/ ya tika trasa hilang halepnya mangke// umuwah ta sira ng watek hyang aswi/ anuduh te ri bhatara padmanabha/ ya tika pulihen langonya raksan/ ri sira, hyang hari tan wihang lumampah// irikan dadi bhupati prasiddha/ maripurnnaken ikang prajatisobha/ subhaga n madhusudanawatara/ sira ta sri jaya-satru kaprakasa// Tuwi sang hyang agastya yatna sighra/ atemah bhiksuka pandhitadhikara/ guru de haji manggehing pangajyan/ sira teka pinatihnikang sarajya// apageh pangadeg haji n haneng rat/ samusuh sri naranatha kapwa bakti/ anubhawa munindra karananya/ kawidagdhanira ring bhayatisuksma// nda tan adwa muwah kretanikang rat/ pada yatneng yasa-dana-dharmma-sastra/ wwang angasraya mula-hina-dina/ dumadak wreddhi sukanya ring samangka// ya ta kaprihati manah nararyya/ ri masantananing artha tulya warsa/ awaneh naranatha ring bhinukti/ lilalila ta sira hyun ing kalangwan//
(Ada sebuah negeri yang indah/ keindahannya laksana di dalam impian, disebut Pulau Jawa, sebuah pulau yang megah/Jawa adalah kitab dari Agastya yang sakti tiada bandingan/pulau itu sekarang dihinggapi ketakutan, sehingga keindahannya lenyap// kemudian berkumpul dewa-dewa bersama Hyang Aswi/bersama-sama memohon dengan sangat kepada bhatara Padmanabha/untuk memperbaiki dan menjaga keindahan pulau tersebut/Dewa Hari ikut serta pergi ke sana//kini dia telah benar-benar menjadi raja/yang menyempurnakan lagi kehidupan hamba sahayanya/dia adalah inkarnasi dari Madhusudana-awatara/dia termasyhur dengan nama Sri Jaya-satru ( Jayabhaya)// Agastya yang suci tidak ketinggalan dan buru-buru berinkarnasi/ menjadi bhiksu pandhita–adhikara/menjadi guru sang raja yang percaya dengan ajarannya/dia menjadi pejabat tinggi yang dipatuhi di seluruh negeri//raja memerintah di dunia dengan teguh/semua musuh Sri Naranatha mengelu-elukannya/ disebabkan wibawa sang muni (pertapa) yang besar/yang sangat mendalam pengetahuannya tentang mengatasi bahaya rohani//dia berhasil menenteramkan kembali dunia/setiap orang berusaha berbuat baik, hidup seperti santri mempelajari kitab suci/kaum “parasit” yang miskin dan hina-dina/mendadak didatangi kegembiraan//apa yang dipikirkan raja dalam hati/uang berlimpah seperti hujan turun sepanjang tahun/terwujud dalam kenyataan/menjadikan raja bersenang-senang menikmati kebahagiaan//)
Sebagian orang menafsirkan bahwa guru Sri Mapanji Jayabhaya adalah Mpu Sedah. Sedangkan sebagian lainnya menafsirkan bahwa Mpu Sedah adalah guru Sri Mapanji Jayabhaya di bidang sastra, sementara sang bhiksu pandhitaadhikara yang disebut dalam Kakawin Hariwangsa adalah Syekh Syamsuddin. Kepada Raja Jayabhaya, Syekh Syamsuddin diterangkan tidak hanya mengajarkan ilmu perbintangan dan nujum, melainkan juga menunjukkan karamah-karamahnya—yang digambarkan seperti kesaktian Rsi Agastya.
Untuk diketahui, sebutan “bhiksu” dan “pandhita” lazim digunakan untuk menyebut tokoh-tokoh pemuka Islam pada zaman tersebut. Misalnya, sebutan pandhita untuk Syekh Maulana Malik Ibrahim; Ali Murtadho yang diangkat sebagai Raja Pandhita di Gresik; sebutan Pandhita Ampel untuk Sunan Ampel; dan sebutan Pandhita Giri untuk Sunan Giri dan keturunannya.
Adanya hubungan antara Prabu Jayabhaya dengan Syekh Syamsuddin juga dikonfrimasi oleh Tim Ekspedisi Islam Nusantara. Dalam sebuah artikel di NU Online berjudul Jayabhaya Pernah Berguru kepada Sykeh Wasil, dijelaskan jika bukti bahwa Prabu Jayabhaya pernah berguru kepada Syekh Wasil terdapat dalam prasasti berbahasa Kawi kuno yang kini berada di Museum Trowulan, Mojokerto. Prasasti tersebut kemungkinan ditulis Prabu Jayabhaya sendiri.
Menurut terjemahan Prof. Adib Sutopo, prasasti menyebutkan bahwa Prabu Jayabhaya menemukan buku Musyarar. Namun, Sang Prabu tak bisa menerjemahkan kitab yang ditulis dalam bahasa Arab itu, lalu meminta pertolongan Syekh Wasil untuk menerjemahkannya. Karena jasanya membantu penerjemahan, Syekh Washil diberi tempat khusus yang kemudian disebut dengan Setana Gedong. Dengan demikian, ada hubungan guru-murid antara Syekh Wasil dan Prabu Jayabhaya.
Dalam Kitab Majmu’at as-Silsilati Ahada Asyara min al-auliya atau Kumpulan Silsilah Sebelas Wali yang disusun oleh KH. M. Mubasysyir Mundzir atau Mbah Mundzir—yang masyhur sebagai ulama ahli ilmu nasab atau silsilah, pendiri dan pengasuh Pondok-Pesantren Ma’unahsari Bandarkidul Kediri—dijelaskan bahwa Mbah Wasil atau Syekh Syamsuddin merupakan keturunan ke-6 dari Sayyidina Ihsan Nawawi atau Sunan Bayat Solo, dan keturunan ke-25 dari Nabi Muhammad Saw.
Haul Syekh Syamsuddin al-Wasil dihelat setiap bulan Rajab. Dan di setiap malam Jumat Legi digelar istighasah jamaah Dzikrul Ghafilin di kompleks makam Setana Gedong. Tradisi ini dirintis oleh K H. Khamim Jazuli atau Gus Miek dan KH. Khalil pada tahun 1970-an. […bersambung…]
(Wijdan | Dirangkum dari Berbagai Sumber)





