Bayangkare Islah
Abdul Ghafur Maimoen, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan dalam seminar bertajuk “Metode dan Dakwah Sunan Ampel Sebagai Fondasi Islam di Indonesia”, dalam rangka Haul Agung Sunan Ampel 568 yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel (STIBADA MASA) dan Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) Jawa Timur di Hotel Pesona Surabaya, 30 April 2017, menilai, Ampel Denta, tanah perdikan yang dipimpin oleh Sunan Ampel di Surabaya, telah menjadi lahan persemaian kaderisasi para dai. Para santri yang dianggap sudah mumpuni dikirim oleh Sunan Ampel ke wilayah Nusantara Timur melalui rute armada dagang yang dikelola dengan baik oleh Nyi Gede Pinatih, salah satu saudagar kaya di Tuban.
Maka, Sunan Giri alias Jaka Samudra, anak angkat Nyi Gede Pinatih sekaligus salah satu santri kinasih Sunan Ampel, diutus untuk mengerjakan proyek Islamisasi wilayah Nusantara Timur. Beliau kemudian mendirikan Giri Kedaton sebagai titik pijak penyebaran Islam. Jika di Sumatera ada Kerajaan Aceh yang punya reputasi politik dan dakwah dalam kurun abad ke-16-17, di era yang sama, Giri Kedaton menjalankan penguatan jaringan Islam di Nusantara Timur.
Apa yang dikerjakan oleh Sunan Giri itu adalah bagian dari program Bayangkare Islah atau Angkatan Pelopor Kebaikan yang dirancang oleh Dewan Wali Songo dari Kerajaan Demak. Tujuan program tersebut adalah agar aspek-aspek kebudayaan berupa filsafat hidup, kesenian, kesusilaan, adat-istiadat, dan ilmu pengetahuan lokal masyarakat yang menjadi sasaran dakwah sebisa mungkin diisi dengan niai-nilai pendidikan Islam.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menyarud naskah-naskah warisan nenek moyang yang beragama Hindu-Buddha dan merawat tradisi yang sudah menjadi bagian penting dari masyarakat agar Islam mudah diterima rakyat. Penyaduran itu dikepalai oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Giri Mereka menghasilkan beberapa naskah berupa suluk, syairan, kidung. primbon, dan hikayat, di antaranya Suluk Sunan Kalijaga, Suluk Sunan Bonang, Suluk Sunan Giri, Wasita Jati Sunan Geseng, yang semuanya berisi diktat mistik Islam yang ditulis tangan. Karya lain Sunan Giri adalah yaitu Serat Wali Sana dan Serat Widyapradana, yang berisi pengetahuan ilmu faal yang kemudian dikembangkan oleh R. Ranggawarsita.
Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Sunan Giri Malang dalam Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (1975), menemukan jejak sejarah bahwa salah satu bidang dakwah yang digarap Sunan Giri adalah pendidikan. Dalam usaha dakwah ini, Sunan Giri tidak sekadar mengembangkan sistem pesantren yang diikuti santri-santri dari berbagai daerah, mulai Jawa timur, Jawa tengah, Kalimantan, Makassar, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Ternate, Tidore, dan Hitu, tetapi juga mengembangkan pula sistem pendidikan masyarakat yang terbuka dengan menciptakan berbagai jenis permainan anak-anak seperti Jelungan, Jamuran, Gendi Gerit. Juga menciptakan tembang-tembang permainan anak-anak, seperti Padang Bulan, Jor, Gula Ganti, dan Cublak-cublak Suweng. Bahkan, Sunan Giri diketahui menciptakan beberapa tembang tengahan dengan metrum Asmaradhana dan Pucung yang sangat digemari masyarakat, karena berisi ajaran rohani yang tinggi. Salah satu tembang permainan anak-anak ciptaan Sunan Giri adalah Padang Bulan: padang-padang bulan/ ayo gage do dolanan/ dedolanan neng latar/ ngalap padang gilar-gilar/ nundung begog hanga tikar//





