Sunan Giri (2): Membangun Peradaban Islam-Jawa Berbasis Pegon dan Reformasi Seni Pertunjukan

Sedangkan dalam teks Musawaran, Sunan Giri menegaskan, “dewe-dewe tekatiro, kumpul bae maksudiro (kita boleh berbeda-beda pendapat, tapi tetap satu tujuan)”. Dengan begitu, kita tidak mudah menyalahkan orang lain.

Sejak didirikan pertama di tahun Jawa 1407 atau 1485 M, Pesantren Giri adalah pusat kegiatan ekspansi Islamisasi Nusantara yang bekerja secara massif, terlembaga, dan sistematis. Bukan cuma kiblat peradaban bagi kaum Muslim, tapi juga bagi kalangan non-Muslim. Komunitas Buddha Merbabu-Merapi di Jawa Tengah dan komunitas Hindu di Tengger bahkan sampai ikut berguru dan mencari berkah ilmu di Giri—sebagaimana dipaparkan dalam naskah-naskah Merapi-Merbabu abad 17-18 dan Serat Centhini. Manuskrip masyarakat Merapi Merbabu beraksara Buddha dan pegon itu tersimpan di Perpustakaan Nasional, dengan kode 63B.

Nama besar Sunan Giri bahkan muncul dalam beberapa sumber Spanyol, Portugis, dan China di abad ke-16 dan awal abad ke-17 dengan nama “Raja Bukit” dari Gresik. Menurut M.A.P. Meilink-Roelofsz dalam Asian Trade and European Infl uence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630 (1962), sejak paruh kedua abad ke-14, Gresik sudah dihuni orang-orang China, yang kemudian memberi nama daerah itu dengan sebutan Ce-cun, yang secara harfiah bermakna “desa kakus-kakus”. Menurut G.P. Rouff aer (1906) nama aneh itu digunakan oleh orang China yang mengacaukan bentuk halus bahasa Jawa atau kromo untuk Gresik, yaitu tandhes (salah satu artinya, ‘muara sungai’) dengan kata Melayu “tandas” yang berarti “kakus”. Lalu menerjemahkannya menjadi Ce-cun. Giri berarti bukit.

Bacaan Lainnya

Hubungan perdagangan antara orang-orang Eropa sebelum VOC dengan penduduk Nusantara pun berlangsung atas perkenan dan restu penguasa-ulama di Giri. Menurut laporan pengembara Italia Antonio Pigafetta, yang mengikut ekspedisi Spanyol Magellan pada tahun 1521, sebelum kaum Muslim Jawa masuk ke Ternate dan Tidore di tahun 1471, orang-orang Maluku belum mengenal penanaman dan perdagangan rempah-rempah.

Orang Maluku baru mengenal pengelolaan rempah-rempah ketika Sunan Giri dan murid-muridnya berdakwah di Nusantara bagian timur itu. D sana, Sunan Giri dan para santrinya mengembangkan pengelolaan rempah-rempah sebagai komoditas perdagangan unggulan. Sementara Antonio Galvao, pengembara Portugis dari tahun 1544, mengatakan bahwa sejak masuknya orang-orang Muslim dari Jawa itu—maksudnya dari Giri—orang-orang Maluku mulai mengenal mata uang, tulisan, agama baru, musik, hukum dan hal-hal baik lainnya bersamaan dengan maraknya penanaman rempah-rempah.

Sunan Giri pula yang memperkenalkan satu sistem ekonomi Nusantara pengganti sistem feodal. Sistem yang dibangun Sang Sunan inilah yang kemudian menjadi latar belakang permusuhan antara Giri dengan aliansi antara Mataram dengan VOC. Perselisihan itu dilatarbelakangi beda prinsip antara moda produksi kekeluargaan Nusantara yang digalakkan oleh Sunan Giri dengan moda produksi feodalis yang diterapkan oleh aliansi Mataram dan Belanda. Tentang permusuhan ini, para orientalis Belanda waktu itu membangun narasi bahwa itu adalah pertarungan antara Islam Arab yang dibawa Sunan Giri melawan Islam Jawa agraris Mataram—sama sekali tidak menyinggung konsep ekonomi yang dipertarungkan.

Akibat dari perselisihan itu, tak ada pusat-pusat Islamisasi di Jawa maupun Sumatera yang mengalami persekusi keras dari Mataram maupun VOC melebihi yang dialami Giri.

Pos terkait