Sebagian cerita tutur yang berkembang di tengah masyarakat mengisahkan bahwa setelah tinggal lama di Desa Drajat, Sunan Drajat memindahkan tempat tinggalnya ke bagian selatan dari desa tersebut ke wilayah yang tanahnya lebih tinggi, yang dikenal sebagai Dalem Duwur. Di Dalem Duwur inilah Sunan Drajat tinggal di usia tua sampai wafatnya.
Sunan Drajat dimakamkan di di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban melintasi jalan Daendels (Anyer-Panarukan). Tidak banyak perbedaan dengan makam wali-wali yang lain, makam Sunan Drajat bertungkub dan dikelilingi tembok dengan ukiran kayu yang sangat indah. Di pintu masuk cungkup makam Sunan Drajat terdapat ukiran tulisan pada papan kayu jati yang berbunyi “Maqom Raden Qosim, Sunan Derajat, Sunan Mayang Madu Bin Sunan Ampel. Dilarang mengambil gambar”.
Beragam peninggalan Sunan Drajat masih terpelihara sampai sekarang. Beberapa di antaranya tersimpan di di Museum Sunan Drajat yang berada di kompleks makam Sunan Drajat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Museum ini dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan untuk menghormati jasa – jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-benda bersejarah peninggalannya, keluarga dan para sahabatnya yang berjada pada penyebaran dakwah Islam. Museum ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.
Museum Sunan Drajat menyimpan 691 koleksi benda dari masa lalu, terutama peninggalan dari masa Sunan Drajat. Begitu melangkah masuk ke museum, pengunjung akan disuguhkan bedug peninggalan Sunan Drajat. Bentuk dari bedug ini memang sama seperti bedug-bedug lainnya yang ada di Lamongan, yang membedakan adalah usia bedug yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15.

Koleksi lainnya yang juga diyakini merupakan peninggalan Sunan Drajat adalah seperangkat gamelan yang dikenal dengan nama gamelan Singo Mengkok. Gamelan ini terbuat dari kayu, bambu, dan besi dan terdapat ukiran Singo Mengkok—yang secara harfiah berarti “singa yang sedang duduk dengan sikap siap menerkam”, lambang kearifan, kelembutan, nafsu, dan kesempurnaan manusia.
Ada juga Al-Qur’an peninggalan langsung dari Sunan Drajat, yang terbuat dari serat tumbuhan dan juga ada yang berbahan kulit hewan. Koleksi kitab lainnya adalah kitab amjah yang bertuliskan Surah Yusuf yang ditulis dengan menggunakan huruf Arab pegon. Benda unik lainnya adalah koleksi berupa selembar kain tenun peninggalan Sunan Drajat, ada juga ukiran struktur bangunan Sunan Drajat, fosil keramik, Pedang Sunduk dan lain sebagainya.

Terdapat pula peninggalan berupa sumur Sunan Drajat. Air sumur itu dipercaya membawa keberkahan. Berdasarkan penelitian etnografis Ainul Fitriyah, sumur tua peninggalan Sunan Drajat itu diyakini memiliki kekuatan magis. Sumur yang terletak di sebelah timur makam Sunan Drajat ini sudah ada sejak masa hidup Sang Sunan. Biasanya, peziarah tak pernah ketinggalan membeli air Sunan Drajat untuk dijadikan oleh-oleh atau diminum di rumah.[—bersambung]





