Serangan udara AS-Israel di Iran menewaskan 34 orang, termasuk anak-anak, saat ultimatum Selat Hormuz memicu eskalasi konflik.
Serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel di sejumlah wilayah Iran menewaskan sedikitnya 34 orang, termasuk enam anak-anak, pada Senin, 6 April 2026. Serangan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz.
Kantor berita Fars melaporkan, 23 korban jiwa terjadi di Kabupaten Baharestan, Provinsi Teheran. Korban termasuk empat anak perempuan dan dua anak laki-laki di bawah usia 10 tahun.
Di Kota Qom, lima orang tewas akibat serangan ke bangunan permukiman. Sementara enam korban lainnya dilaporkan di Bandar-e Lengeh, Iran selatan.
Sedikitnya 12 kota menjadi target, antara lain Bandar Abbas, Ahvaz, Mahshahr, Shiraz, Isfahan, dan Karaj.
Universitas dan Fasilitas Sipil Jadi Sasaran
Serangan juga menghantam Universitas Sharif di Teheran, salah satu pusat sains terkemuka Iran. Kerusakan dilaporkan terjadi pada masjid dan laboratorium kampus.
Reporter Al Jazeera di Teheran menyebut serangan turut menyasar fasilitas gas, jalan raya, pembangkit listrik, dan jembatan. Kementerian Sains Iran menyebut setidaknya 30 universitas terdampak sejak konflik dimulai pada 28 Februari.
Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menuding AS menggunakan bom penghancur bunker.“Ia gagal memahami bahwa pengetahuan tidak bisa dihancurkan bom,” ujar Aref.





