Reformasi 1998 [2]: Peran Besar Universitas Indonesia dalam Mengubah Sejarah

Mahasiswa UI membungkus papan "Selamat Datang di Kampus Perjuangan Orde Baru" dengan kain putih Foto: Arsip Universitas Indonesia

Mahasiswa UI terus menunjukkan perlawanan mereka, termasuk pada 3 April 1998 dengan berdemontrasi di FK UI Salemba menolak tawaran dialog dari ABRI atau pemerintah. Mereka menganggap dialog tersebut hanya simbolis dan tidak menyentuh esensi masalah. Selain aksi-aksi demonstrasi, UI sebagai lembaga juga mengadakan simposium bertema “Kepedulian UI Terhadap Tatanan Masa Depan Indonesia” dari 30 Maret hingga 1 April 1998. Simposium ini dihadiri akademisi dan aktivis kampus untuk membahas solusi krisis di bidang ekonomi, hukum, dan politik.

Pada 16 Mei 1998, civitas akademika UI melakukan audiensi langsung dengan Presiden Soeharto di kediamannya di Jl. Cendana No.8. Audiensi ini dipimpin oleh Prof. Dr. Asman Boedisantoso Ranakusuma, dengan kehadiran akademisi lainnya seperti dr. Usman Chatib Warsa, Ph.D., Muhammad Nazif, S.E., MBA, Drs. Umar Mansur, M.Sc., Prof. Dr. Anwar Nasution, Prof. dr. M.K. Tadjudin, Prof. Miriam Budiardjo, dan Zen Umar Purba, S.H., L.L.M. Mereka menyampaikan rangkuman simposium dan pernyataan yang menyambut baik kesediaan Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri.

Sebelum Reformasi 1998, civitas akademika UI sudah terlibat dalam peristiwa-peristiwa pergerakan besar di Indonesia, seperti aksi mahasiswa pada peristiwa Tritura 1966 dan Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974. Semangat dan keberanian mahasiswa UI dalam Reformasi 1998 menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus memperjuangkan keadilan dan demokrasi di Indonesia, memastikan bahwa semangat reformasi tetap hidup dan terjaga.♦

Bacaan Lainnya

Pos terkait