Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terancam memicu food waste. Riset UI mengungkap mayoritas siswa SD di Jakarta sisakan makanan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi jalan keluar untuk memenuhi nutrisi anak sekolah kini menghadapi tantangan baru. Alih-alih terserap maksimal, program berskala nasional ini justru berpotensi memicu lonjakan sampah makanan atau food waste.
Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) baru saja merilis riset terbaru mereka. Tim peneliti pimpinan dosen Antropologi, Dian Sulistiawati, mengobservasi dan mewawancarai lima Sekolah Dasar (SD) di seluruh penjuru DKI Jakarta pada Juni hingga September 2025.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dari rata-rata 32 hingga 34 siswa dalam satu kelas, hanya segelintir anak yang benar-benar menuntaskan jatah makan siang mereka.
“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” ungkap Dian mengutip laman resmi FISIP UI, Jumat (6/3/2026).
Ironisnya, sebagian besar siswa lainnya hanya menyantap sedikit bagian dari menu, atau bahkan membiarkannya utuh. Karena tidak semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melarang sisa makanan dibawa pulang, beberapa sekolah akhirnya membiarkan siswa membawa sisa lauk tersebut. Dian menegaskan bahwa kondisi ini harus segera menjadi alarm keras bagi Badan Gizi Nasional (BGN).
Akar Masalah: Menu yang Asing di Lidah Anak
Mengapa anak-anak enggan menghabiskan makanan mereka? Riset ini membedah bahwa akar penolakan tersebut tidak sekadar berpusat pada masalah logistik atau teknis distribusi. Tantangan terbesarnya justru terletak pada aspek sosial dan budaya.
Banyak siswa merasa asing dengan menu yang tersaji. Akibatnya, selera makan mereka menurun drastis dan sisa makanan pun menumpuk. Kebiasaan makan anak merupakan produk bentukan lingkungan yang tidak bisa pemerintah ubah secara instan hanya dengan meletakkan seporsi makanan sehat di atas meja.





