Jejak akademikus pro-Zionis ini ternyata pernah bersinggungan dengan tokoh-tokoh besar Indonesia.
__________
Permintaan maaf Universitas Indonesia (UI) tak serta-merta meredam polemik.
Sabtu, 23 Agustus 2025, kampus terbesar di tanah air itu menuai kritik setelah menghadirkan Peter Berkowitz, peneliti senior Hoover Institution Universitas Stanford yang dikenal sebagai pendukung zionisme, dalam acara akademik di Depok.
UI mengakui lalai. “Kami meminta maaf karena kurang cermat memeriksa latar belakang pembicara,” kata Kepala Humas UI, Arie Afriansyah, Ahad, 24 Agustus 2025.
Namun di balik itu, jejak Berkowitz di Indonesia ternyata lebih panjang daripada sekadar undangan UI.
Akademikus, Propagandis, dan Jejak Pro-Zionisme
Peter Berkowitz bukan nama sembarangan. Lulusan Swarthmore College, Hebrew University, dan Yale University ini pernah menjabat Direktur Policy Planning Departemen Luar Negeri AS di era Donald Trump. Di ranah akademik dan media internasional, ia dikenal vokal membela Israel.
Dalam artikel The Sinai Option, ia mengusulkan pemindahan warga Gaza ke Sinai, Mesir. Tahun lalu, melalui kolom di RealClearPolitics, ia menyebut perang Israel pasca-serangan 7 Oktober 2024 sebagai just war atau perang yang adil.
Narasi seperti itu membuat kelompok mahasiswa UI SJP geram. “Berkowitz bukan hanya pakar filsafat politik, tetapi juga propagandis vokal yang membela Israel,” tulis mereka di Instagram.
Dekat dengan Tokoh Indonesia
Meski penuh kontroversi, Berkowitz bukan orang asing bagi Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, ia justru tampil dekat dengan tokoh-tokoh berpengaruh.
Pada 2–3 November 2022, ia hadir sebagai pembicara Forum R20 di Bali. Dalam catatan acara, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyebut: “Panel pertama bertajuk ‘identifying and embracing values shared by the world’s major religions and civilizations’. Peter Berkowitz dari Hoover Institution turut berbicara bersama Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.”
Berkowitz sendiri mengaku terkesan dengan forum itu. Dalam artikelnya, ia menulis: “Forum itu inisiatif luar biasa penting yang meninggalkan kesan tak terlupakan.”
Jejak kedekatan itu berlanjut pada 16–19 September 2024. Saat berada di Amerika Serikat, Berkowitz mengundang Gus Yahya makan siang usai berdiskusi dengan tokoh The Heritage Foundation. Ia kembali menyinggung NU: “Forum R20 yang diinisiasi PBNU adalah salah satu sumbangan terbesar dunia Islam bagi peradaban global.”
Agustus 2025, namanya kembali tercatat sebagai salah satu narasumber Seminar Sejarah Pemikiran Politik Barat, yang dihelat oleh Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) . Forum itu diikuti oleh profesor, kolumnis surat kabar, dan pimpinan pesantren NU. Berkowitz tampil bersama Mary Ann Glendon, profesor emerita dari Harvard.





