Misteri Kematian Diplomat Muda: Istri Telepon Polsek 7 Kali Tak Digubris, Keluarga Terima Amplop Misterius

Ilustrasi rangkaian peristiwa janggal sebagaimana pengakuan keluarga Daru. - AI/Samudrafakta
Meta Ayu, istri Arya Daru Pangayunan, mengaku berulang kali mencari pertolongan, tapi tak mendapat respons. Sementara keluarga Daru mengaku menerima amplop cokelat misterius setelah kematian sang diplomat.

__________

Istri diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan alias Daru, Meta Ayu Puspitantri atau Pita, mengaku tujuh kali menghubungi Polsek Menteng, Jakarta Pusat, pada dini hari Selasa, 8 Juli 2025–sebelum suaminya ditemukan tewas. Namun, menurut dia, semua telepon tak dijawab.

“Nomor itu betul milik Polsek Menteng. Tapi tidak ada respons. Padahal tujuh kali dihubungi,” kata Dwi Librianto, penasihat hukum keluarga Daru, dalam konferensi pers di Yogyakarta, Sabtu, 24 Agustus 2025.

Bacaan Lainnya

Saat itu, kata Dwi, Pita sedang panik. Pasalnya, suaminya tak bisa dihubungi sejak Senin malam, 7 Juli, pukul 21.20 WIB. WhatsApp-nya tak aktif.

Pita sempat meminta penjaga kos, Siswanto, mengecek kamar Daru. Namun baru pada pukul 07.30 WIB, Siswanto benar-benar masuk ke kamar.

Daru didapati sudah meninggal, dengan wajah terlilit lakban kuning.

Pihak keluarga menyebut ada banyak kejanggalan. Mereka menyatakan menolak kesimpulan Polda Metro Jaya yang menyatakan kematian Daru bukan tindak pidana.

“Bagaimana bisa rilis sudah keluar, padahal penyelidikan belum tuntas?” ujar penasihat hukum lainnya, Nicholay Aprilindo.

Polisi sebelumnya menyatakan hasil autopsi menunjukkan Daru meninggal karena mati lemas. Tidak ada tanda-tanda pembunuhan.

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra, pada akhir Juli mengatakan kesimpulan itu diperkuat oleh hasil forensik, histopatologi, toksikologi, hingga psikologi forensik.

Namun, keluarga menolak percaya. Mereka bahkan mengungkap adanya kejadian janggal pada malam pengajian kematian Daru. Menurut mereka, seorang pria tak dikenal tetiba datang membawa amplop cokelat. Isinya benda-benda aneh: gabus putih berbentuk bintang, hati, dan bunga kamboja.

“Amplop itu dari orang misterius. Tidak ada yang mengenalnya. Setelah memberikan, ia pergi begitu saja,” kata Nicholay. Benda-benda itu kini diserahkan kepada pihak berwenang untuk diteliti.

Ayah Daru, Subaryono, juga muncul untuk pertama kalinya di depan media. Ia mengaku baru bicara karena kondisi psikis keluarga terguncang, ditambah sang istri masih pemulihan usai operasi kanker usus.

“Kami masih sangat terpukul. Tapi kami ingin kebenaran,” ujarnya.

Melalui penasihat hukum, keluarga meminta Mabes Polri mengambil alih penyelidikan. Mereka menuntut rekonstruksi ulang dan autopsi ulang. Sebab, bagi keluarga, kematian Daru belum selesai. Masih banyak misteri yang menunggu diungkap.***

Pos terkait