Pertunjukan Drama Ketidakakuran Cak Imin – Gus Ipul, Bagaimana Relasi Elite NU ke Depan?

Apabila dilihat dari silsilah keluarga, Cak Imin dan Gus Dur masih memiliki hubungan dekat jika ditarik garis nasabnya sampai ke Kiai Bisri Syansuri. Kiai Bisri Syansuri mempunyai hubungan keluarga dengan Kiai Hasyim Asyari. Keduanya merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yang kemudian memutuskan untuk menjadi besan. Mengutip dari laduni.id, Kiai Bisri Syansuri menikahi adik Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Nyai Chodidjah.

Dari pernikahan itu melahirkan seorang anak bernama Muassomah. Selanjutnya, Muassomah menikah dengan Kiai Hasbullah Salim dan dikaruniai dua anak, salah satunya bernama Muhassonah. Muhasonah menikah dengan Kiai Muhammad Iskandar. Kiai Muhammad Iskandar tak lain merupakan ayah kandung Cak Imin.

Dari garis keturunan ibu, Gus Dur memiliki kakek bernama Kiai Bisri Syansuri. Ibu Gus Dur bernama Nyai Sholichah Munawaroh Wahid Hasyim yang menikah dengan Abdul Wahid Hasyim. Melihat fakta pertemuan tali keluarga dari jalur Kiai Bisri Syansuri, dapat disimpulkan Cak Imin dan Gus Dur masih satu keluarga. Cak Imin merupakan cicit dari Kiai Bisri Syansuri, sedangkan Gus Dur ialah cucu dari Kiai Bisri Syansuri.

Bacaan Lainnya

Sedangkan, Gus Ipul merupakan Putra dari pasangan Ahmad Yusuf Cholil dan Sholichah Hasbulloh.  Jika ditelusur dari silsisal ibundanya, Gus Ipul juga merupakan keponakan Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid. Ia keponakan yang punya privilese pernah tinggal bersama Gus Dur. Sering diajak bepergian sejak muda. Dengan demikian, Gus Ipul mengenal jangkuan pertemanan dan jaringan ketokohan Gus Dur.

Barangkali, kesempatan itu tak dimiliki keponakan Gus Dur lainnya, Cak Imin. Selain tinggal di rumah Gus Dur saat masih muda, Gus Ipul ke Jakarta karena diminta Gus Dur. Setelah ia menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pasuruan. Menurut salah satu sumber, Gus Dur mendatangi ayah Gus Ipul.

Gus Dur meminta supaya Gus Ipul ikut ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dan menimba ilmu kehidupan di ibu kota. Ajakan Gus Dur sempat bertepuk sebelah tangan. Sebab Gus Ipul terang-terangan menolak untuk hidup di Jakarta. Saat itu, dia masih berkeras mewujudkan keinginannya menjadi guru madrasah. Namun Gus Dur juga tidak patah arang. Dia bahkan meminta kepada orang tua Gus Ipul sampai tiga kali.

Baru setelah itu, ayahanda Gus Ipul, Ahmad Yusuf Cholil memintanya secara khusus supaya ikut Gus Dur ke Jakarta. Meski berat hati, Gus Ipul akhirnya harus meninggalkan keluarganya demi menjalankan perintah sang ayah. Saat itu juga, dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya menjadi guru madrasah.Gus Ipul lalu melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Nasional.

Sembari kuliah, Gus Ipul juga menyelami ilmu dari ketokohan Gus Dur yang pada masa itu menjabat sebagai Ketua Umum PB NU. Inilah titimangsa terpenting dalam perjalanan hidupnya sebelum mengenal dunia politik.

Dalam sebuah kesempatan, Ipul pernah membeberkan sekaan dia mempunya ‘Empat Ibu’. “Ibu saya, Soleha Yusuf Cholil dan Gus Dur itu sepupu,” kata Gus Ipul. Kemudian, dia juga menceritakan pernah mondok di Jombang selama empat tahun.

“Di pondoknya Ibunya Pak Muhaimin Iskandar,” kata Gus Ipul. Setelah itu, dia diajak Gus Dur ke Jakarta. Di Jakarta, Gus Ipul mengaku tinggal selama empat tahun di rumah Gus Dur. “Di situ kan ada Bu Sinta Nuriyah Wahid (istri Gus Dur),” kata Gus Ipul. Hingga kemudian bersama dengan Muhaimin Iskandar, oleh Gus Dur, dia dititipkan kepada Megawati Soekarno Putri.

“Karena itu, saya dan Pak Muhaimin sudah biasa mencium tangan Bu Megawati ketika bertemu dan bersalaman,” kata Gus Ipul.

Pada awalnya, Saifullah Yusuf terpilih sebagai anggota DPR Fraksi PDI-P. Ia dianggap sebagai lambang aliansi dari Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri. Namun, saat hubungan Gus Dur dan Megawati merenggang, Gus Ipul memutuskan untuk keluar dari DPR dan PDI-P dan pindah ke PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) pada tahun 2001 lalu.

Saat muktamar PKB tahun 2002, Gus Ipul terpilih menjadi Sekretaris Jenderal PKB mengalahkan kandidat-kandidat kuat lainnya. Namun sayangnya, konflik internal yang terjadi dalam tubuh PKB justru berujung pada pencopotan jabatan Gus Ipul sebagai Sekjen PKB. Hal itu juga berimbas pada jabatan Menteri yang tengah ia emban. Posisi Sekjen PKB tersebut akhirnya digantikan oleh Lukman Edy.

Ketika 2004, Presiden SBY menang pemilu, Gus Ipul sempat diangkat sebagai menteri pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi (PDT). Namun, ia harus rela untuk di-reshuffle di tengah jalan ketika Muhaimin Iskandar mengambil alih kepemimpinan PKB dari tangan Gus Dur. Gus Ipul sempat kehilangan panggung politik meski mendapat kompensasi menjadi komisaris BRI.

FOTO: Ilustrasi

 

Pos terkait