“Campur tangan dingin dari rektor dan para guru besar, serta perguruan tinggi yang ada di Surabaya, menjadikan (prevalensi stunting di Surabaya) 4,8 persen, terendah di Indonesia. Ini menunjukkan apa? Bahwa pemerintah kota tidak pernah sendiri,” ucap Walikota Eri, dikutip Minggu, 8 Oktober 2023.
Eri optimis para mahasiswa yang digerakkan bersama dapat mewujudkan Surabaya zero stunting. Para mahasiswa dan seluruh perguruan tinggi di Kota Surabaya juga diharapkan bisa berkontribusi mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menuju Generasi Emas di tahun 2045.
Sementara itu, Rektor Unair Mohammad Nasih mengatakan, para mahasiswa FK Unair yang mengikuti program tersebut dapat memberikan kontribusi dan hasil yang terbaik untuk masyarakat dan negara. Nasih juga ingin kegiatan yang dijalani oleh para mahasiswa FK Unair dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami berkomitmen, kalau mahasiswa memberikan yang terbaik untuk warga Kota Surabaya di tempat mengikuti penmas (pendidikan masyarakat), dan bisa menuliskan laporannya dengan baik, maka 5 SKS kami tambah, paling tidak bisa menjadi pengganti skripsi,” kata Nasih.
Menurut Nasih, masalah stunting bukan sekadar soal makanan bergizi, akan tetapi ada banyak banyak hal lain yang memengaruhi. Misalnya, gaya hidup hingga perilaku masyarakat, itu juga memiliki dampak.
“Stunting teratasi, lalu gaya hidupnya terdongkrak, maka akan timbul obesitas, itu menjadi masalah baru. Sehingga perilaku masyarakat juga harus diedukasi sebaik-baiknya. Tak hanya stunting, tapi diharapkan bisa mengedukasi remaja agar terhindar dari pernikahan dini. Maka dari itu diharapkan bisa mengedukasi soal pentingnya sekolah atau kuliah,” tuturnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Nanik Sukristina menambahkan, kegiatan Belajar Bersama Komunitas Tematik Kampung Emas Madani 2.0 akan dilaksanakan mulai Oktober – Desember 2023. Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan ke 153 kelurahan di Kota Surabaya.
Kegiatan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu dari fakultas dan perguruan tinggi yang bergabung di dalam Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Stunting Jawa Timur. Konsorsium terdiri dari berbagai perguruan tinggi, mulai Unair, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Dr. Soetomo, Universitas Brawijaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Jember (Unej), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), hingga Universitas Ciputra Surabaya.





