SURABAYA | SAMUDRA FAKTA – Walikota Surabaya Eri Cahyadi bersama Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Mohammad Nasih, melepas 506 mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR yang akan mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di Kota Surabaya.
KKN kali ini merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Belajar Komunitas Tematik Kampung Emas Madani 2.0 tahun 2023. Program ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama Perguruan Tinggi (PT) melakukan pencegahan dan penanganan stunting terpadu melalui upaya konvergensi, intervensi gizi sensitif, dan spesifik.
Dalam program tersebut, ratusan mahasiswa FK Unair tak hanya berupaya melakukan penurunan dan pencegahan stunting, tetapi juga menjalankan program pengabdian masyarakat lainnya, mulai dari edukasi soal pernikahan dini hingga pencegahan kematian ibu dan anak.
Walikota Eri Cahyadi mengatakan, mahasiswa di setiap perguruan tinggi, khususnya di wilayah Kota Surabaya, memiliki kekuatan dan kontribusi yang luar biasa dalam sebuah pembangunan kota. Maka dari itu, ia mengajak para mahasiswa untuk turun bersama jajaran pemkot menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di tengah masyarakat.
“Ketika perguruan tinggi itu hadir di tengah pemerintah, memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat dengan semangat mahasiswanya, maka akan selesai permasalahan itu,” kata Wali Kota Eri Cahyadi, seperti dikutip Minggu (8/10).
Wali Kota Eri turut mengucapkan terima kasih kepada para Guru Besar UNAIR. Menurutnya, tanpa bantuan para guru besar tersebut, stunting di Kota Surabaya tak akan bisa turun drastis seperti saat ini.
Sebagai informasi, di tahun 2021, prevalensi stunting di Kota Surabaya mencapai 28,9 persen (6.722 kasus), kemudian menurun signifikan pada tahun 2022 menjadi 4,8 persen (923 kasus). Tak hanya berhenti di situ, jajaran Pemkot Surabaya bersama Forkopimda, perguruan tinggi, dan stakeholder terus berjibaku mengentaskan stunting. Akhirnya, pada akhir September 2023 lalu stunting di Kota Pahlawan terus menurun menjadi 529 kasus.
“Campur tangan dingin dari rektor dan para guru besar, serta perguruan tinggi yang ada di Surabaya, menjadikan (prevalensi stunting di Surabaya) 4,8 persen, terendah di Indonesia. Ini menunjukkan apa? Bahwa pemerintah kota tidak pernah sendiri,” ucap Walikota Eri, dikutip Minggu, 8 Oktober 2023.
Eri optimis para mahasiswa yang digerakkan bersama dapat mewujudkan Surabaya zero stunting. Para mahasiswa dan seluruh perguruan tinggi di Kota Surabaya juga diharapkan bisa berkontribusi mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menuju Generasi Emas di tahun 2045.
Sementara itu, Rektor Unair Mohammad Nasih mengatakan, para mahasiswa FK Unair yang mengikuti program tersebut dapat memberikan kontribusi dan hasil yang terbaik untuk masyarakat dan negara. Nasih juga ingin kegiatan yang dijalani oleh para mahasiswa FK Unair dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami berkomitmen, kalau mahasiswa memberikan yang terbaik untuk warga Kota Surabaya di tempat mengikuti penmas (pendidikan masyarakat), dan bisa menuliskan laporannya dengan baik, maka 5 SKS kami tambah, paling tidak bisa menjadi pengganti skripsi,” kata Nasih.
Menurut Nasih, masalah stunting bukan sekadar soal makanan bergizi, akan tetapi ada banyak banyak hal lain yang memengaruhi. Misalnya, gaya hidup hingga perilaku masyarakat, itu juga memiliki dampak.
“Stunting teratasi, lalu gaya hidupnya terdongkrak, maka akan timbul obesitas, itu menjadi masalah baru. Sehingga perilaku masyarakat juga harus diedukasi sebaik-baiknya. Tak hanya stunting, tapi diharapkan bisa mengedukasi remaja agar terhindar dari pernikahan dini. Maka dari itu diharapkan bisa mengedukasi soal pentingnya sekolah atau kuliah,” tuturnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Nanik Sukristina menambahkan, kegiatan Belajar Bersama Komunitas Tematik Kampung Emas Madani 2.0 akan dilaksanakan mulai Oktober – Desember 2023. Para mahasiswa tersebut akan diterjunkan ke 153 kelurahan di Kota Surabaya.
Kegiatan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu dari fakultas dan perguruan tinggi yang bergabung di dalam Konsorsium Perguruan Tinggi Peduli Stunting Jawa Timur. Konsorsium terdiri dari berbagai perguruan tinggi, mulai Unair, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Dr. Soetomo, Universitas Brawijaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Jember (Unej), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), Universitas Trunojoyo Madura (UTM), hingga Universitas Ciputra Surabaya.
“Pelaksanaan program Kampung Emas Eliminasi Stunting ini adalah, sebagai upaya penurunan stunting di Kota Surabaya yang melibatkan mahasiswa S1 dalam program MBKM,” imbuhnya.
Para mahasiswa akan menjalankan berbagai program, antara lain intervensi Gemerlap Pasca Salin (Gerakan Merencanakan KB pasca Persalinan) untuk meningkatkan cangkupan KB, dengan menyasar ibu hamil. Intervensi lainnya adalah Laduni (Layanan Terpadu pra Nikah) yang bertujuan untuk menurunkan kasus anemia, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau stunting sejak lahir dengan sasaran calon pengantin (catin).
Intervensi yang ketiga yakni, Pandawa Lima (Pencegahan Pernikahan Dini Lewat Alim Ulama) atau mencegah terjadinya pernikahan dini. Selain itu juga ada program edukasi minat belajar ke jenjang perguruan tinggi untuk remaja santri dan santriwati, serta masih banyak intervensi lainnya.
–Foto: Para mahasiswa yang dilibatkan dalam program pengentasan stunting Pemkot Surabaya. (SF | Yadi)
Yadi





