Banyak orang tua kini menyadari bahwa belajar bahasa asing sejak kecil tak hanya membekali komunikasi masa depan, tapi juga melatih kemampuan kognitif anak seperti daya ingat dan fleksibilitas berpikir.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, tren mengenalkan bahasa asing kepada anak usia dini terus meningkat di Indonesia. Selain sebagai investasi komunikasi global, aktivitas ini kini banyak dikaitkan dengan manfaat nyata bagi perkembangan otak anak.
Berbagai penelitian menunjukkan proses mempelajari bahasa baru melibatkan banyak fungsi otak sekaligus, termasuk memori, perhatian, pemecahan masalah, serta kemampuan beradaptasi. Anak diajak mengenali pola bahasa, memahami konteks, dan mengingat kosakata secara rutin, yang berfungsi sebagai latihan mental efektif.
Menurut riset yang dikutip platform Duolingo, belajar bahasa secara rutin memaksa otak memanggil kembali informasi, mengenal pola, beralih antar konsep, dan beradaptasi dengan aturan baru. Kegiatan ini bekerja seperti olahraga mental yang menyenangkan.
Studi Ungkap Peningkatan Fungsi Eksekutif
Studi dari Baycrest dan York University menemukan bahwa orang dewasa yang menggunakan Duolingo sekitar 30 menit sehari selama empat bulan mengalami peningkatan fungsi eksekutif dan performa kognitif. Peningkatan terlihat pada memori kerja, fokus, serta fleksibilitas kognitif dibandingkan kelompok kontrol.
“Belajar bahasa baru tidak hanya membantu anak memperluas kosakata, tetapi juga melatih cara mereka memahami pola, menghubungkan informasi, dan menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda,” ujar Ayoe Sutomo, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Jumat (26/6/2026).
“Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari,” sambungnya.
Ayoe menekankan manfaat ini tidak datang secara instan. Konsistensi, frekuensi belajar teratur, dan pengalaman yang menyenangkan menjadi kunci keberhasilan. Ia juga mengingatkan orang tua untuk mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa belajar bahasa melibatkan tuntutan kognitif unik, berbeda dengan aktivitas edukatif lain yang lebih fokus pada satu keterampilan. Di Indonesia, orang tua kini memadukan interaksi sehari-hari, pendidikan formal, dan platform digital untuk mendukung proses ini.
Di luar manfaat akademis, kemampuan multibahasa membuka peluang anak mengenal beragam budaya dan perspektif. Bagi banyak keluarga, ini menjadi investasi jangka panjang untuk membangun rasa ingin tahu, adaptasi, dan fondasi belajar seumur hidup.***





