Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari meninjau kesiapan Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 2 di Surabaya menjelang dimulainya kegiatan belajar mengajar (KBM) pada awal Agustus 2026.
Qodari mengaku terkesan dengan perkembangan pembangunan kawasan pendidikan seluas 6,6 hektare tersebut. Menurutnya, lahan yang sebelumnya berupa sawah kini telah berubah menjadi kompleks pendidikan terpadu dengan fasilitas yang lengkap.
“Dari sawah, sekarang punya gedung yang begini bagus dan megah. Alhamdulillah, kami sangat bangga. Saya yakin Bapak Presiden juga sangat bangga dan terharu jika melihat langsung perkembangan pembangunan Sekolah Rakyat ini,” ujar Qodari, Rabu (29/7/2026).
Pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kawasan ini dilengkapi gedung sekolah untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, asrama siswa serta guru, lapangan mini soccer, lapangan basket, lapangan voli, ruang serbaguna, masjid, guest house, kantin, hingga dapur umum.
Selain itu, sekolah juga memiliki fasilitas laboratorium yang saat ini masih dalam tahap pendataan sebelum dioperasikan.
Qodari menjelaskan, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang masuk kategori desil satu dan dua. Ia menilai program tersebut menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat miskin.
“Mudah-mudahan tempat ini menjadi pintu dan jalan bagi perubahan nasib anak-anak kita yang kurang beruntung serta keluarga mereka. Ini adalah momentum untuk menyaksikan bagaimana program Presiden Prabowo diimplementasikan dan menjadi nyata dari sebuah ide,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan sebanyak 270 siswa baru jenjang SD, SMP, dan SMA akan mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 30 Juli 2026.
“Siswa baru yang masuk ada 270 anak untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Tanggal 30 mereka mulai masuk untuk administrasi, lalu tanggal 31 mulai menginap dan menjalani tes kesehatan khusus siswa SMA. Selanjutnya, tanggal 1 Agustus disusul tes kesehatan untuk jenjang SD dan SMP,” ujar Antiek.
Sebelum kegiatan belajar dimulai, seluruh siswa diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah itu, mereka akan mengikuti rangkaian kegiatan yang dipandu kementerian terkait.
Selain menerima 270 siswa baru, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 juga akan menjadi lokasi belajar bagi sekitar 100 siswa rintisan yang sebelumnya menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
“Siswa rintisan yang kini telah naik ke kelas II SMA akan dipindahkan secara bertahap hingga seluruhnya terpusat di satu lokasi. Jadi total ada 270 siswa baru dan 100 siswa dari sekolah rintisan,” jelasnya.
Antiek mengimbau para siswa membawa pakaian secukupnya selama masa awal tinggal di asrama serta menggunakan seragam lama apabila seragam baru dari Sekolah Rakyat belum diterima.
Terkait tenaga pendidik dan kurikulum, Antiek mengatakan seluruhnya berada di bawah kewenangan kementerian. Sementara proses penjaringan siswa dilakukan melalui kolaborasi antara pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), pendamping kecamatan, Badan Pusat Statistik (BPS), dan Pemerintah Kota Surabaya.
“Nama-nama calon siswa yang terjaring kemudian ditinjau dan dimasukkan ke dalam sistem pendataan,” ujarnya.
Antiek berharap keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 dapat menekan angka putus sekolah sekaligus membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Surabaya.
“Kami tentunya sangat mendukung dan berharap Sekolah Rakyat ini dapat mengurangi anak putus sekolah serta membantu mengangkat masa depan anak-anak Surabaya dari keluarga tidak mampu,” pungkasnya.***





