Kritik ini disandingkan dengan kemunculan bursa bakal calon Ketua Umum PBNU yang saat ini mencatat sekitar 11 nama tokoh nasional dan struktural, termasuk Yahya Cholil Staquf, Nasaruddin Umar, Zulfa Mustofa, Abdul Hakim Mahfudz, Yusuf Chudori, Abdul Ghaffar Rozin, Abdussalam Sochib, Gudfan Arif Ghofur, Masykuri Abdillah, Hery Haryanto Azumi, Marsudi Syuhud, hingga Prof. M. Nuh. Kehadiran para kandidat dalam berbagai forum silaturahmi nasional menyoroti tingginya dinamika kontestasi yang tengah diamati secara ketat oleh para kader.
Bagaimana NU memastikan bahwa peralihan menuju sistem Ahwa benar-benar menutup celah transaksional, atau justru menyisakan ruang kompromi politik baru di balik tirai musyawarah?***





