Membela program MBG pakai dalil agama itu keliru. Publik mengkritik potensi mubazir triliunan rupiah, bukan mencela makanan.
Oleh: Faried Wijdan | Penulis Samudrafakta.com
Belakangan ini, sejumlah tokoh dan pendakwah rajin menggunakan dalil agama untuk membentengi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari kritik publik. Politisi seperti Nusron Wahid bahkan membawa-bawa ayat suci untuk menjustifikasi kebijakan ini.
Mereka seolah memposisikan para pengkritik sebagai kelompok yang gemar mencela makanan dan menyalahi sunah Nabi. Padahal, publik melontarkan kritik bukan untuk menghina makanan, melainkan untuk menyoroti potensi kemubaziran triliunan rupiah uang negara akibat implementasi program yang serampangan.
Menggunakan ayat suci sebagai tameng untuk menutupi kelemahan kebijakan publik adalah sebuah kesesatan berpikir yang harus kita luruskan.
Salah Kaprah Mengutip Dalil Agama
Mari kita bedah klaim para pembela MBG. Nusron Wahid dengan percaya diri mengutip Surat Quraisy ayat 4: “Dan Dia yang memberi mereka makan dari lapar dan memberi mereka keamanan dari ketakutan.”
Penggunaan ayat ini sungguh melenceng dari konteks. Ayat tersebut sedang menjelaskan nikmat Allah kepada kaum Quraisy. Subjek kalimatnya sangat jelas: Allah. Jika politisi memaksakan ayat ini sebagai fondasi program MBG, apakah secara tidak langsung mereka meminta rakyat untuk menyembah pihak yang menggagas program ini?
Tentu ini lompatan logika teologis yang sangat fatal. Semangat agama, seperti yang juga tercermin dalam Surat Al-Ma’un, justru menitikberatkan pada ketepatan sasaran—memberi makan orang miskin yang benar-benar membutuhkan, bukan membagikan makanan secara buta yang berujung pada pemborosan.
Begitu pula dengan argumen yang berlindung di balik hadis: “Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan.” Hadis ini murni mengajarkan adab bertamu. Jika seseorang menjamu kita di rumahnya, pantang bagi kita mencela makanannya.
Namun, jika makanan tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak dan dibiayai utang negara, masyarakat berhak dan wajib mengkritik kualitasnya.





