Menggugat Tameng Dalil MBG: Antara Kutipan Ayat, Realitas Puasa, dan Triliunan Rupiah yang Mubazir

Kotak makanan program MBG menumpuk tak tersentuh di sekolah saat Ramadan, memicu kritik publik tentang potensi pemborosan anggaran negara dan ketidaktepatan kebijakan.

​Nabi Muhammad sendiri tidak pernah diam melihat ketidakberesan. Beliau pernah menegur keras seorang pedagang di pasar yang menyembunyikan makanan basah dan busuk di bawah tumpukan makanan yang bagus.

Nabi langsung bersabda, “Siapa yang menipu bukan dari golongan kami.” Artinya, mengawasi dan mengkritik kualitas makanan untuk publik adalah bagian dari ajaran agama itu sendiri.

​Realitas Pahit MBG di Bulan Puasa

Kritik masyarakat menemukan urgensinya ketika kita melihat implementasi MBG di bulan Ramadan. Pemerintah memaksakan program ini tetap berjalan pada siang hari. Keputusan ini menunjukkan betapa kebijakan ini tercerabut dari realitas sosial masyarakat Muslim.

Bacaan Lainnya

​Coba bayangkan perjuangan orang tua di rumah. Mereka bersusah payah melatih anak berpuasa, membangunkan sahur, dan menyemangati anak agar kuat menahan lapar hingga Magrib. Namun, ketika anak tiba di sekolah, pihak sekolah justru membagikan kotak MBG pada pukul sembilan pagi.

​Kondisi ini hanya akan bermuara pada dua kemungkinan yang sama-sama merugikan. Pertama, pertahanan sang anak runtuh. Rasa lapar mendera, makanan tersaji di depan mata, dan akhirnya ia memakannya. Latihan puasanya hancur berantakan.

Kedua, anak berhasil menahan godaan dan membawa pulang kotak makanan tersebut. Sesampainya di rumah saat waktu berbuka, ibu sudah menyiapkan hidangan yang segar dan hangat. Tentu saja, kotak MBG yang sudah dimasak sejak pagi buta kalah saing.

Makanan itu akhirnya tidak tersentuh, basi, dan berujung di tempat sampah.

​Triliunan Rupiah Menguap Menjadi Sampah

Ujung dari kebijakan yang memaksakan diri ini adalah kemubaziran massal. Isnawati, Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), membeberkan data yang sangat memprihatinkan.

​Akibat program MBG yang terus berjalan di bulan puasa, sekitar 62 hingga 125 juta porsi makanan terbuang sia-sia setiap minggunya. Negara harus menanggung kerugian finansial yang fantastis, yakni antara Rp622 miliar hingga Rp1,27 triliun per minggu!

​Uang triliunan rupiah itu bukan sekadar angka di atas kertas. Itu adalah uang rakyat, hasil pajak, dan tumpukan utang yang menguap menjadi sampah organik. Agama manapun, termasuk Islam, sangat mengutuk tindakan pemborosan (tabdzir) dan menyebut para pemboros sebagai saudara setan.

Pos terkait