Pengendalian Pikiran
Para penjajah modern, sebagaimana dijelaskan oleh pakar linguistik Amerika Serikat, Noam Chomsky, dalam bukunya, Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda (1997), menjalankan praktik hegemoni narasi melalui sebuah upaya yang bernama pengendalian pikiran.
Pengendalian pikiran, menurut Chomsky, adalah senjata yang digunakan oleh kaum kolonialis baru untuk mengendalikan pikiran bangsa-bangsa koloni mereka. Senjata mereka bukan senapan, meriam, atau rudal, melainkan perangkat yang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat modern.
Kaum neo-kolonial memanfaatkan perangkat yang ada dalam rumah kita sendiri. Mereka menghibur kita dan anak-anak, hingga akhimya mendoktrin pikiran kita tanpa kita sadari.
Di zaman sekarang, orang-orang menghabiskan banyak sekali waktu bersinggungan dengan media modern. Televisi, bioskop, komputer, alat permainan, internet, bacaan fiksi, dan musik populer adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Media tersebut menyuguhkan informasi—yang pada dasarnya berupa propaganda kaum neo-kolonialis—dan terserap ke dalam pikiran manusia, baik secara sadar maupun tidak sadar.
Informasi ala neo-kolonialis yang diterima masyarakat melalui media-media tersebut terdiri dari nilai moral, kebajikan, dan perbedaan antara yang benar dan salah, yang digunakan untuk menyusun tatanan sosial dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari—yang tentunya menggunakan standar kaum penjajah baru dengan tujuan mendiskreditkan peradaban yang dijajah.
Media memiliki peran yang besar untuk membentuk landasan, dengan cara memengaruhi pandangan setiap individu terhadap dunia dan segala hal yang ada di dalamnya.
Sementara itu, menurut Noriagaa dan Archenarh, dalam buku The Diary of Dajjal (2009), media-media modern yang menjadi “referensi kebenaran” bagi sebagian besar masyarakat dunia saat ini dikuasai oleh sekelompok orang. Mereka menguasai kanal informasi sepenuhnya. Mereka memiliki kekuatan untuk mendoktrin seluruh populasi dunia dengan cara berpikir mereka.
Kaum neo-kolonialis menggunakan industri hiburan untuk memposisikan orang-orang agar sesuai dengan cara berpikir mereka—baik secara terbuka ataupun terselubung. Metode yang mereka pergunakan memang bervariasi, tetapi tetap demi tujuan yang satu, yaitu mencekoki masyarakat dunia dengan keyakinan, ideologi, dan tujuan mereka yang sedemikian rupa, sehingga orang-orang mulai berpikir bahwa itu adalah hasil pikiran mereka sendiri, dan semua itu merupakan kebenaran.
Apakah penguasaan jaringan media itu hanya kebetulan semata? Menurut Noriagaa, Archenarh, dan Noam Chomsky, sama sekali bukan. Kaum neo-kolonialis sengaja mengondisikan situasi tersebut, karena mereka sadar bahwa kelangsungan mereka bergantung pada pencucian otak dan doktrinasi nilai terhadap kita.



