Melepaskan Diri dari Poskolonial dengan Berpikir Kritis
Menurut Ania Loomba, seorang profesor dari University of Pennsylvania, kajian poskolonialisme merupakan suatu perlawanan terhadap dominasi kolonialisme dan warisan-warisan kaum neo-kolonialis.
Sementara Presiden Nexus Research and Policy Center, Jorge de Alva, memandang kajian poskolonialisme sebagai perlawanan terhadap wacana-wacana dan praktik-praktik imperialisme atau kolonialisasi gaya baru.
Maka dari itulah, kajian poskolonialisme perlu dilakukan secara serius, agar kita, sebagai bangsa “Timur” yang selalu direndahkan oleh bangsa-bangsa Barat dalam praktik neo-kolonial, tak selalu merasa sebagai peradaban yang inferior, sehingga bisa seenaknya sendiri dieksploitasi. Kita awali dengan berani berpikir kritis ketika menerima segala bentuk informasi. Jangan ditelan mentah-mentah.

Dengan terus mengembangkan kesadaran kritis dan memperbarui pengetahuan tentang poskolonialisme, kita akan tahu bagaimana seharusnya memposisikan diri di tengah praktik penjajahan baru.
Jika kita menyadari kajian poskolonialisme ini, dalam ranah yang paling dekat atau rendah, akan munculnya kesadaran pada diri kita bahwa ada dikotomi antara penjajah dan terjajah.
Apabila kesadaran tersebut sudah terbangun, pada akhirnya akan berkembang menjadi sebuah aksi untuk meraih kemerdekaan sepenuhnya. ◼︎
Referensi:
- Chomsky, N. (1997). The Spectacular Achievements of Propagandaˆ. N/A
- Dorleanes, E. (2006). Orang Indonesia & Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Noriagaa dan Archenarh (2009). The Diary of Dajjal. Papyrus Publishing
- Said, E. W. (2016). Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



