JAKARTA — Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menghapus jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkat SMA, MA, dan sekolah sederajat mulai tahun ajaran 2024/2025. Langkah ini diambil untuk memberikan kebebasan kepada siswa dalam memilih mata pelajaran yang sesuai dengan minat dan aspirasi karier mereka.
Anindito Aditomo, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), menjelaskan bahwa perubahan ini bertujuan untuk menghilangkan pembagian jurusan yang konvensional, sehingga siswa kelas 11 dan 12 dapat memilih mata pelajaran berdasar minat, bakat, dan rencana studi lanjutan mereka. “Kurikulum Merdeka memungkinkan siswa memilih mata pelajaran sesuai dengan minat mereka tanpa terikat oleh jurusan tradisional,” ujar Anindito, dikutip dari inilah.com, Kamis (18/7/2024).
Nino menambahkan, kebijakan ini juga bertujuan untuk menghilangkan diskriminasi dalam seleksi masuk perguruan tinggi yang sebelumnya lebih menguntungkan siswa jurusan IPA. “Dengan kebijakan ini, siswa memiliki kesempatan untuk memilih program studi di perguruan tinggi tanpa terikat oleh jurusan yang diambil saat di SMA,” tambahnya.
Nino memberikan contoh, siswa yang tertarik pada bidang teknik tidak perlu mengambil Biologi sebagai bagian dari kurikulumnya, sementara siswa yang berminat pada bidang kedokteran dapat fokus pada Biologi dan Kimia tanpa harus mempelajari Matematika Tingkat Lanjut jika tidak diperlukan. “Penghapusan jurusan ini tidak hanya memperluas opsi akademik untuk siswa tetapi memungkinkan pendekatan yang lebih personal dan fokus dalam pendidikan,” jelasnya.
Dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang telah mencapai 90-95% di seluruh jenjang pendidikan dasar dan menengah, Indonesia bergerak menuju sistem pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.
Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Holy Ichda Wahyuni, menyatakan bahwa selama ini masih ada stereotip di masyarakat tentang jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. “Sebagian orang tua masih menganggap jurusan IPA sebagai yang terbaik bagi anak tanpa mempertimbangkan minat dan bakat mereka, meskipun kesadaran akan pentingnya minat dan bakat anak sudah mulai meningkat,” ujar Holy pada Kamis (18/7/24).



