Fenomena teror pocong yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang belakangan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Fenomena teror pocong yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang belakangan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Isu tersebut bermula dari video viral di Lamongan yang memperlihatkan sosok berpakaian putih menyerupai pocong berkeliaran di kawasan permukiman warga pada malam hari.
Video tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kepanikan warga. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian merasa takut keluar rumah pada malam hari.
Menanggapi fenomena itu, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), M. Febriyanto Firman Wijaya menilai bahwa kemunculan sosok pocong tersebut diduga bukan sekadar aksi iseng, melainkan dapat menjadi modus tindak kriminal untuk menebar ketakutan di masyarakat.
Menurutnya, kondisi panik dan turunnya kewaspadaan warga dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan pencurian maupun tindak kejahatan lainnya.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa ada pihak yang sadar betul bahwa ketakutan kolektif bisa menjadi alat yang sangat efektif. Satu video pocong di malam hari bahkan bisa melumpuhkan kewaspadaan masyarakat lebih cepat dibanding ancaman biasa,” ujar Riyan, dikutip Selasa (26/5/2026).
Riyan menilai, fenomena tersebut tidak bisa dipandang hanya sebagai candaan atau hiburan semata. Ia menyebut ada proses instrumentalisasi ketakutan yang sengaja diproduksi dan disebarluaskan untuk menciptakan keresahan sosial.
“Ini bukan lagi sekadar iseng. Ketakutan masyarakat sedang dijadikan komoditas. Tanpa sadar, masyarakat menjadi pasar dari rasa takut yang terus diproduksi,” tambahnya.
Ia juga mengkritik peran media sosial yang dinilai kerap menjadi ruang penyebaran kepanikan. Menurutnya, konten yang memancing emosi dan rasa takut jauh lebih cepat viral dibandingkan informasi yang mendorong masyarakat berpikir kritis.





