Makanan Ultra-Proses Ancam Gizi Anak Indonesia

Ilustrasi Jenis Makanan Ultra Processed Food (UPF). SHUTTERSHOCK
UNICEF menyoroti paparan anak terhadap makanan ultra-proses yang makin murah, mudah didapat, dan dipasarkan agresif.

Laporan UNICEF 2025 bertajuk Feeding Profit: How Food Environments are Failing Children menyoroti perubahan besar dalam pola makan anak dan remaja. Makanan ultra-proses dan minuman berpemanis kini makin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam laporan global itu, UNICEF menyebut lingkungan pangan tidak sehat membuat anak terus terpapar makanan murah, tinggi kalori, tetapi rendah zat gizi. Di saat yang sama, pilihan pangan bergizi belum selalu tersedia dan terjangkau.

UNICEF juga mencatat obesitas pada anak dan remaja usia 5–19 tahun kini menjadi bentuk malnutrisi yang melampaui kekurangan berat badan secara global. Pergeseran ini menunjukkan persoalan gizi anak tidak lagi hanya soal kekurangan makan.

Bacaan Lainnya
Bukan Sekadar Camilan

Makanan ultra-proses adalah formulasi industri yang umumnya dibuat dari bahan hasil ekstraksi atau sintesis. Produk ini kerap mengandung tambahan gula, garam, lemak, perisa, pewarna, pengawet, hingga penguat rasa.

Masalahnya bukan hanya pada satu produk tertentu, tetapi pada pola konsumsi yang berulang. Ketika anak terlalu sering mendapat makanan dengan rasa sangat kuat, pangan segar seperti sayur, buah, lauk rumahan, dan sumber protein alami bisa makin tersisih.

Kajian yang dikutip FKM Unair menyebut konsumsi makanan ultra-proses di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 45 persen dari total asupan kalori harian. Angka ini menunjukkan produk industri telah menjadi bagian besar dari pola makan masyarakat.

Risiko Penyakit Tidak Menular

Paparan makanan ultra-proses yang berlebihan berkaitan dengan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Dari sana, risiko penyakit tidak menular juga ikut meningkat, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik.

Dalam dokumen lengkap, UNICEF menilai persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan pangan yang dibentuk oleh harga, iklan, ketersediaan produk, desain kemasan, dan kemudahan akses.

Pos terkait