Ekonomi Indonesia Kata Pemerintah Aman, Tapi Dompet Kita Merasakan yang Beda

Ekonomi tumbuh di atas kertas, tetapi tekanan biaya hidup membuat banyak rumah tangga bertanya: aman bagi siapa? ILUSTRASI/AI GENERATE
Indonesia masih tumbuh 5 persen di tengah gejolak global. Tapi, data kelas menengah yang menyusut, manufaktur nyaris stagnan, dan konsumen makin pelit bicara kemungkinan lain.

Waktu Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa bilang ke Presiden bahwa “indikator produksi dan konsumsi menunjukkan fondasi ekonomi masih sehat,” pernyataan itu tidak asal bunyi.

Angka-angka memang masih berpihak ke pemerintah—setidaknya kalau dilihat dari jauh.

BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, sedikit lebih tinggi dari 5,03 persen pada 2024. IMF dalam World Economic Outlook April 2026 memproyeksikan pertumbuhan Indonesia tetap di kisaran 5 persen tahun ini. ADB bahkan sedikit lebih optimistis, memperkirakan 5,2 persen pada 2026 dan 2027.

Bacaan Lainnya

Di atas kertas, Indonesia tampak oke-oke saja.

Tapi, ada jarak antara apa yang terlihat di angka besar dan apa yang dirasakan oleh jutaan rumah tangga. Dan jarak itulah yang perlu dibaca lebih jujur.

Optimisme yang Perlu Diberi Tanda Bintang

Pemerintah tidak salah menyebut ekonomi “masih kuat.” Dibanding banyak negara yang porak-poranda dihajar konflik Timur Tengah, lonjakan harga energi, dan perlambatan global, Indonesia memang relatif bertahan lebih baik.

Kemenkeu memastikan harga BBM subsidi tidak naik hingga akhir 2026 untuk meredam tekanan daya beli. Bank Indonesia menahan BI-Rate di 4,75 persen pada April 2026—bukan karena semua longgar, tapi untuk menjaga rupiah dari tekanan eksternal yang makin serius. Sekretariat Kabinet pun menegaskan pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif.

Semua ini bukan omong kosong. Fondasinya nyata.

Masalahnya, “aman dari krisis besar” tidak sama dengan “nyaman buat semua orang.” Di sinilah cerita mulai berbeda.

Angka Besar, Tekanan Kecil yang Tak Kelihatan

Di level rumah tangga dan sektor riil, sinyalnya jauh lebih campur aduk dari yang terlihat di laporan resmi.

Ipsos mencatat indeks kepercayaan konsumen Indonesia turun dari 62,6 pada Januari, ke 62,4 pada Februari, lalu anjlok ke 59,2 pada Maret 2026. Tiga bulan berturut-turut turun. 

Pos terkait