Makanan Ultra-Proses Ancam Gizi Anak Indonesia

Ilustrasi Jenis Makanan Ultra Processed Food (UPF). SHUTTERSHOCK

Karena itu, edukasi gizi saja tidak cukup. Keluarga memang perlu lebih cermat membaca label pangan, membatasi gula, garam, dan lemak, serta membiasakan anak mengonsumsi pangan segar. Namun, perlindungan kebijakan tetap dibutuhkan.

UNICEF merekomendasikan penguatan regulasi pemasaran makanan tidak sehat kepada anak, pelabelan pangan yang lebih mudah dipahami, serta peningkatan akses terhadap makanan bergizi di sekolah dan lingkungan keluarga.

Kembali ke Pangan Segar

Bagi Indonesia, isu makanan ultra-proses berkaitan langsung dengan agenda besar peningkatan kualitas sumber daya manusia. Target Indonesia Emas 2045 sulit dicapai jika anak-anak tumbuh dengan fondasi gizi yang rapuh sejak dini.

Bacaan Lainnya

Pangan segar lokal dapat menjadi titik balik. Sayur, buah, kacang-kacangan, ikan, telur, tempe, tahu, dan makanan rumahan berbasis bahan segar perlu kembali ditempatkan sebagai pilihan utama di meja makan keluarga.

Perubahan itu memang tidak mudah di tengah kehidupan yang serba cepat. Namun, membatasi dominasi makanan ultra-proses adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan anak hari ini dan menekan beban penyakit di masa depan.***

Masa depan generasi tidak hanya ditentukan oleh sekolah, teknologi, atau lapangan kerja. Ia juga dibentuk dari isi piring anak-anak sejak kecil.***

Pos terkait