Kementerian Kesehatan mengungkap 93 persen anak Indonesia mengalami karies gigi. Dokter spesialis anak memperingatkan orang tua untuk mewaspadai kandungan gula tersembunyi dalam susu formula.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan 93 persen anak Indonesia mengalami karies gigi atau gigi berlubang. Salah satu pemicunya adalah konsumsi susu formula. Orang tua kini diminta lebih kritis melihat komposisi bahan, bukan sekadar janji iklan pada kemasan.
Dokter spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menjelaskan bahwa kualitas nutrisi harus dinilai dari bahan utama. Jika susu segar tercantum di urutan awal, berarti produk tersebut menggunakan bahan utuh tanpa proses produksi yang terlalu panjang.
Gula Tambahan dan Risiko Kesehatan Gigi
Orang tua wajib mencermati bahan tambahan seperti maltodekstrin, sirup jagung, dan sukrosa. Maltodekstrin adalah karbohidrat olahan yang cepat berubah menjadi gula di dalam tubuh, sedangkan sirup jagung berpotensi merusak pola makan anak sejak dini.
“WHO menekankan pentingnya membatasi konsumsi gula pada anak karena berkaitan dengan masalah kesehatan gigi,” ujar Reza, Minggu (18/4/2026). Selain itu, bahan perisa seperti vanilin sering digunakan untuk menutupi aroma asli susu akibat pemanasan berulang.
Pentingnya Proses Produksi yang Terjaga
Selain faktor gula, proses pemanasan berulang dalam produksi dapat menurunkan kadar lisin dan merusak struktur protein. Padahal, nutrisi seperti kalsium dan fosfor sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tulang serta kesehatan gigi anak secara optimal.
Meskipun Air Susu Ibu (ASI) tetap menjadi sumber gizi terbaik, susu formula sering kali menjadi pilihan lanjutan. “Memilih susu formula bukan soal merek, tapi memahami apa yang masuk ke tubuh anak setiap hari,” tegas Reza sebagai penutup.***





