Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN-Rusia di Kazan menghasilkan empat dokumen kerja sama, termasuk rencana aksi lima tahun. Indonesia jajaki PLTN terapung dan pastikan impor 150 juta barel minyak Rusia hingga akhir 2026.
KTT ASEAN–Rusia yang berlangsung di Kazan, Rusia, resmi berakhir hari ini, Jumat (19/6/2026). Pertemuan tiga hari itu menghasilkan empat dokumen yang memperkuat komitmen kerja sama kedua belah pihak.
Keempat dokumen tersebut adalah Deklarasi Kazan, Rencana Aksi Komprehensif Implementasi Kemitraan Strategis Rusia–ASEAN 2026–2030, serta dua pernyataan bersama di bidang energi dan budaya.
Rencana Aksi Komprehensif 2026–2030 memuat langkah konkret memperluas kolaborasi di bidang politik dan keamanan, perdagangan dan investasi, energi, transportasi, pertanian, ekonomi digital, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Maksim Reshetnikov mengungkapkan, nilai perdagangan Rusia dan ASEAN meningkat 58 persen dalam satu dekade terakhir menjadi USD21 miliar. Namun angka itu dinilai belum mencerminkan potensi penuh yang dapat dicapai.
KTT dihadiri sejumlah kepala pemerintahan, antara lain Presiden Filipina Ferdinand Marcos, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, serta Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong. Presiden Prabowo Subianto berhalangan hadir dan diwakili Menteri Luar Negeri Sugiono.
Indonesia Jajaki PLTN Terapung
Dalam KTT ini, Sugiono menegaskan komitmen Indonesia mempercepat pengembangan energi terbarukan melalui eksplorasi teknologi nuklir yang aman. Ia menyebut pengalaman luas Rusia di bidang nuklir sebagai landasan kuat untuk membangun kerja sama pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.
Indonesia juga mengonfirmasi akan melanjutkan impor minyak mentah dari Rusia untuk memperkuat cadangan energi nasional di tengah gangguan rantai pasok global akibat konflik AS–Iran. Komitmen impor 150 juta barel minyak Rusia akan dilaksanakan bertahap hingga akhir 2026.
Terkait arsitektur keamanan global, Indonesia menyambut baik Deklarasi Kazan yang dinilai sejalan dengan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik, terutama dalam mengedepankan sentralitas ASEAN.
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sambutannya menegaskan bahwa Rusia dan ASEAN bersama-sama mendukung pembentukan tatanan dunia yang adil, mempertahankan prinsip kesetaraan kedaulatan negara, dan tidak melakukan campur tangan dalam urusan internal negara lain.***





