Kenapa Dinamakan Pulau Gag?
Menurut Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hari Suroto—sebagaimana dilansir detiktravel, Senin 9 Juni 2025—Pulau Gag memang punya potensi mineral yang tinggi, terutama nikel, selain pesona alamnya yang indah.
Kata Hari, pulau ini dinamakan Gag karena, ketika pertama kali para leluhur menjejakkan kaki di pulau itu, mereka menjumpai banyak teripang di perairannya. Hewan bernilai ekonomi tinggi itulah yang disebut “gag”. Dus, pulau ini pun disebut Pulau Gag.

Daratan Pulau Gag bertopografi bukit gelombang, dengan lembah yang teratur. Bukit tinggi mendominasi bagian barat, dan memanjang dari utara ke selatan. Puncak tertinggi pulau ini terdapat di Gunung Susu, yang menjulang setinggi 350 mdpl.
Warga Pulau Gag berprofesi sebagai nelayan, pekebun, penokok sagu, pembuat kopra, dan pedagang. Umumnya mereka menggantungkan hidupnya pada perairan di sekitar pulai.
Wilayah perairan di sekitar Pulau Gag berlimpah hasil laut, seperti ikan tuna, kembung, samandar, bobara, kurisi, baronang, hiu, teripang, bulanak, lalosi, teri, udang, dan lobster. Selain dikonsumsi sendiri, hasil melaut juga dijual di Pulau Gag, ataupun dijual kepada pengepul dari Sorong.
Selain dari hasil laut, masyarakat Pulau Gag juga berkebun, mereka berkebun di daerah lembah yang relatif lebih subur. Hasil kebun umumnya hanya dikonsumsi sendiri dan bila ada hasil lebih, baru dijual ke warga lain.
Tanaman budidaya antara lain kangkung, terong, singkong, ubi jalar, sirih, pinang dan cabai. Kebun-kebun Masyarakat berada jauh dari pemukiman. Lantaran sambilan, aktivitas tanam menanam berlangsung Ketika cuaca tidak ramah untuk melaut.
Masyarakat Pulau Gag juga menokok sagu, yang tumbuh merata di daratan yang berawa. Hasil menokok sagu untuk konsumsi sendiri, dan juga dijual ke luar pulau. Pohon kelapa banyak tumbuh di pesisir Pulau Gag, dimanfaatkan masyarakat untuk memproduksi kopra.
Semua komiditas alam sumber penghidupan warga Pulau Gag itulah, menurut laporan Greenpeace, yang rusak akibat aktivitas pertambangan yang dikerjakan oleh PT Gag Nikel. Para aktivis lingkungan pun khawatir hak hidup masyarakat adat setempat bakal terampas.***





