Penembakan Uribe mengingatkan publik Kolombia pada masa-masa kelam kekerasan politik di negara itu, di mana selama dekade 1980-1990-an, Kolombia kehilangan sejumlah pemimpin politik akibat serangan bersenjata.
__________
Miguel Uribe Turbay, senator konservatif yang juga kandidat potensial dalam Pemilu Presiden 2026, ditembak ketika berpidato dalam sebuah acara kampanye terbuka di kawasan Fontibón, Bogotá, Sabtu, 7 Juni 2025.
Dikutip dari laporan Associated Press (AP) dan sejumlah media Kolombia, serangan terhadap Uribe berlangsung di sebuah taman umum, ketika dia tengah berbicara di depan para pendukungnya. Pelakunya adalah seorang remaja berusia 15 tahun. Dia melepaskan tembakan dari belakang, mengenai kepala dan paha kiri sang senator.
“Miguel saat itu tengah berbicara di podium, tiba-tiba terdengar suara letusan. Semua panik, kami melihat dia roboh dengan luka tembak di kepala dan kaki,” kata Carlos Méndez, salah satu saksi mata yang berada di lokasi kejadian, sebagaimana dikutip AP.
Usai serangan, tim pengamanan langsung melumpuhkan pelaku yang diidentifikasi bernama Juan Sebastián Rodríguez Casallas. Pelaku diamankan dan tengah diperiksa oleh aparat.
Sementara Uribe dilarikan dalam kondisi kritis ke Rumah Sakit Fundación Santa Fe de Bogotá. Tim medis melakukan operasi neuro-surgikal untuk mengatasi luka tembak di kepala, serta pembedahan untuk memperbaiki patah tulang di paha.
Hingga Ahad malam, 8 Juni, pihak rumah sakit menyatakan kondisi Uribe masih kritis namun stabil. “Kami telah berhasil menghentikan perdarahan di kepala. Pasien masih dalam pengawasan intensif,” kata dr. Laura Fernández, salah satu dokter yang menangani Uribe, dikutip El País.
Motif Belum Jelas, Ketegangan Politik Memanas
Motif di balik penembakan tersebut belum diungkap secara resmi. Polisi Kolombia mengklaim masih mendalami, apakah pelaku bertindak atas dorongan pribadi atau ada pihak lain yang terlibat.
Namun, pengamat politik setempat menilai insiden ini terjadi di tengah polaritas tajam politik Kolombia menjelang Pemilu Presiden 2026. “Ini alarm serius bahwa iklim politik kita kembali dibayang-bayangi kekerasan, ujaran kebencian meningkat, ruang demokrasi makin terancam,” kata analis politik María Elvira Samper, dikutip dari AP.





