Gus Fahrur menyebut Pulau Gag, tempat di mana PT Gag Nikel menambang, bukan destinasi wisata, tapi wilayah pertambangan yang berizin.
__________
Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Komisaris PT Gag Nikel, Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, mengklaim banyak foto hasil kecerdasan buatan atau AI yang menampilkan tambang nikel di Pulau Gag di media sosial. Dia juga menyinggung soal ‘narasi menyesatkan’ terkait polemik pertambangan nikel di Pulau Gag.
Menurut Fahrur, melalui unggahan di Instagram-nya, @gus_fahrur, Pulau Gag bukan destinasi wisata. Tapi, kata dia, pulai ini adalah wilayah dengan izin usaha pertambangan resmi yang dikelola PT Gag Nikel.
Fahrur menegaskan jika izin tersebut berlaku sejak 1998, setelah Izin Usaha Pertambangan (IUP) terbit setahun sebelumnya, pada tahun 2017.
“Ini bukan soal pro atau kontra, tapi soal tanggung jawab menyebarkan informasi akurat. Narasi menyesatkan bisa merusak kepercayaan publik dan dimanfaatkan pihak tertentu untuk agenda lain, termasuk narasi separatis untuk ‘memerdekakan Papua’,” kata Gus Fahrur dalam Instagram-nya, yang diunggah Ahad 8 Juni 2025.
“Isu lingkungan tetap penting, tapi harus disampaikan dengan jujur. Mari kita kawal dan lindungi Raja Ampat dengan menyebarkan fakta, bukan narasi menyesatkan dan manipulasi,” tulis dia.
Reaksi Netizen
Pernyataan Fahrur pun mengundang komentar warganet.
“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. (AlBaqarah: 11),” tulis akun @zqdcoq.
“APAPUN ALIBI KALIAN, HENTIKANLAH MERUSAK ALAM.. #SAVERAJAMPAT,” ketik akun @seriousblacksimplewhite.
“Pulau kecil mutlak tidak boleh ditambang, Gus. Itu ada di UU. Silakan cek. Kecuali ini ada kaitannya dengan posisi Anda di PT. Gag Nikel,” ujar akun @mizan_arjuna.
Sementara itu, LSM Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), dalam keterangan persnya, mengungkapkan bahwa Pulau Gag dikategorikan sebagai pulau kecil menurut UU Nomor 1/2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP3K).
Dan berdasarkan UU tersebut, menurut JATAM, pulau kecil tidak boleh ditambang.
Kenapa Dinamakan Pulau Gag?
Menurut Peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hari Suroto—sebagaimana dilansir detiktravel, Senin 9 Juni 2025—Pulau Gag memang punya potensi mineral yang tinggi, terutama nikel, selain pesona alamnya yang indah.
Kata Hari, pulau ini dinamakan Gag karena, ketika pertama kali para leluhur menjejakkan kaki di pulau itu, mereka menjumpai banyak teripang di perairannya. Hewan bernilai ekonomi tinggi itulah yang disebut “gag”. Dus, pulau ini pun disebut Pulau Gag.

Daratan Pulau Gag bertopografi bukit gelombang, dengan lembah yang teratur. Bukit tinggi mendominasi bagian barat, dan memanjang dari utara ke selatan. Puncak tertinggi pulau ini terdapat di Gunung Susu, yang menjulang setinggi 350 mdpl.
Warga Pulau Gag berprofesi sebagai nelayan, pekebun, penokok sagu, pembuat kopra, dan pedagang. Umumnya mereka menggantungkan hidupnya pada perairan di sekitar pulai.
Wilayah perairan di sekitar Pulau Gag berlimpah hasil laut, seperti ikan tuna, kembung, samandar, bobara, kurisi, baronang, hiu, teripang, bulanak, lalosi, teri, udang, dan lobster. Selain dikonsumsi sendiri, hasil melaut juga dijual di Pulau Gag, ataupun dijual kepada pengepul dari Sorong.
Selain dari hasil laut, masyarakat Pulau Gag juga berkebun, mereka berkebun di daerah lembah yang relatif lebih subur. Hasil kebun umumnya hanya dikonsumsi sendiri dan bila ada hasil lebih, baru dijual ke warga lain.
Tanaman budidaya antara lain kangkung, terong, singkong, ubi jalar, sirih, pinang dan cabai. Kebun-kebun Masyarakat berada jauh dari pemukiman. Lantaran sambilan, aktivitas tanam menanam berlangsung Ketika cuaca tidak ramah untuk melaut.
Masyarakat Pulau Gag juga menokok sagu, yang tumbuh merata di daratan yang berawa. Hasil menokok sagu untuk konsumsi sendiri, dan juga dijual ke luar pulau. Pohon kelapa banyak tumbuh di pesisir Pulau Gag, dimanfaatkan masyarakat untuk memproduksi kopra.
Semua komiditas alam sumber penghidupan warga Pulau Gag itulah, menurut laporan Greenpeace, yang rusak akibat aktivitas pertambangan yang dikerjakan oleh PT Gag Nikel. Para aktivis lingkungan pun khawatir hak hidup masyarakat adat setempat bakal terampas.***





