Keracunan Massal Usai Pentas Wayang di Klaten: Satu Meninggal, 110 Orang Jadi Korban

Sebanyak 110 warga Kabupaten Klaten mengalami keracunan usai acara halal bihalal, Sabtu, 12 April 2025. | Ilustrasi Canva/Edi Purwanto
Langit malam Sabtu, 12 April 2025, itu seharusnya cerah. Di Dukuh Bendungan, Desa Karangturi, Kecamatan Gantiwarno, warga berkumpul untuk menyaksikan pentas wayang kulit dalam rangka halal bihalal. Gamelan ditabuh, dalang melantunkan suluk, dan hidangan khas desa pun disajikan.

__________

Namun, kebersamaan yang hangat berubah menjadi kepanikan ketika satu per satu warga mulai merasakan mual dan pusing. Beberapa bahkan harus dilarikan ke rumah sakit. Tiga hari setelahnya, jumlah korban mencapai 110 orang, satu di antaranya meninggal dunia.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus ini. “Ini kasus luar biasa, tapi masih dalam kendali,” ujar Hamenang kepada Antara. Dia menyampaikan hal itu saat meninjau langsung lokasi kejadian pada , Selasa, 15 April 2025, didampingi jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Bacaan Lainnya

Menurut data sementara, puluhan korban hanya mengalami gejala ringan dan diperbolehkan pulang. Namun sebagian lainnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Seorang penyandang gangguan jiwa (ODGJ) yang turut menyantap makanan tanpa diundang menjadi korban jiwa dalam insiden ini. “Beliau mengalami sesak napas sebelum meninggal,” kata Hamenang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, Hanung Sasmita, menyatakan peristiwa ini telah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai KLB. “Karena jumlah korban banyak dan ada yang meninggal, kami langsung bergerak cepat,” ujarnya.

Kepala BPBD Kabupaten Klaten, Syahruna, menambahkan bahwa kejadian bermula pada Sabtu malam (12/4) saat warga menghadiri pentas wayang. Makanan yang disajikan dalam acara itu diduga menjadi penyebab keracunan. Pada Minggu, 13 April, beberapa warga mulai merasakan gejala mual dan pening. Lonjakan korban terjadi pada Senin, 14 April, hingga akhirnya dilaporkan ke aparat desa.

Pemerintah kini telah membuka posko di lokasi kejadian dan melibatkan Labfor Polri bersama tim Inafis Polres Klaten untuk menyelidiki sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan. “Kapolres meminta agar dibuat pos pemantauan di lokasi RT tempat kejadian,” ujar Syahruna.

Desa Karangturi, yang beberapa hari lalu dihiasi tawa dan lantunan wayang, kini menjadi pusat perhatian. Sisa-sisa tragedi masih terasa, menyisakan trauma di balik hajatan yang semula membawa harapan akan silaturahmi dan kebahagiaan.***

Pos terkait