Indonesia dan Rusia di ambang kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. Semua lini digarap, baik sains, arkeologi, sejarah, hingga agama.
__________
Gedung B.J. Habibie, di bilangan Jakarta Pusat, siang itu terasa lebih semarak dari biasanya. Di ruang pertemuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin, 14 April 2025, Wakil Menteri Sains dan Pendidikan Tinggi Federasi Rusia, Konstantin Mogilevskiy, memulai kunjungan kehormatan dengan nada akrab namun penuh agenda strategis. Rusia, katanya, ingin lebih dari sekadar menjadi mitra riset biasa.
“Kami ingin memperluas dan memperdalam hubungan ini,” ucap Mogilevskiy. Ia menekankan pentingnya membangun perjanjian antarnegara (G to G) dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tak hanya itu, Rusia membuka peluang kolaborasi dalam kerangka multilateral, termasuk BRICS dan Rusia-ASEAN.
Dalam pertemuan itu, Mogilevskiy meluncurkan tawaran kerja sama yang tak biasa: delapan alat kelas megasains yang tengah mereka bangun. Alat-alat tersebut tak hanya untuk riset fundamental, tapi juga menyasar bioteknologi medis hingga aplikasi teknologi tinggi.
Bukan hanya fisika nuklir—yang kini dimanfaatkan secara luas di Rusia untuk energi dan keperluan medis—Mogilevskiy juga mengundang Indonesia untuk mengeksplorasi bidang-bidang yang selama ini jarang disentuh dalam kerja sama bilateral, seperti arkeologi dan sejarah.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menyambut hangat tawaran itu. Ia menegaskan bahwa saat ini BRIN bukan sekadar lembaga riset pelaksana, tetapi juga lembaga pembiayaan penelitian dan penyusun kebijakan sains nasional.
“Kami menaungi semua ilmu, dari antariksa sampai agama,” kata Handoko dengan nada mantap.
Dalam diskusi yang berlangsung hampir satu jam itu, Handoko menyampaikan minat BRIN untuk terlibat dalam proyek megasains Rusia, sebagai bagian dari strategi peningkatan kapasitas periset nasional.
“Kolaborasi harus dimulai dari interaksi manusia. Dari sana kita bisa menemukan minat bersama, lalu melahirkan kolaborasi,” ujarnya.
Handoko juga memaparkan program visiting professorship dan post-doctoral fellowship BRIN terbuka untuk peneliti dari dalam maupun luar negeri. Salah satu prioritasnya adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang nuklir.
BRIN, yang mengelola Politeknik Nuklir di Yogyakarta, tengah menjajaki kemungkinan menjalin kemitraan dengan Tomsk State University di Rusia.
Tak berhenti di situ, BRIN juga mengusulkan kerja sama produksi radioisotop dan radiopharmaceutical bersama Rosatom untuk kebutuhan Indonesia dan kawasan ASEAN.
“Kami ingin mendorong tumbuhnya ekonomi baru dari infrastruktur sains,” ujar Handoko.
Selain sektor nuklir, BRIN juga membuka pintu kolaborasi di bidang bioteknologi, riset laut dalam, dan antariksa. Untuk yang terakhir, BRIN memang belum memiliki program eksplorasi luar angkasa, namun siap terlibat dalam riset bersama Rusia. Bahkan, diskusi kerja sama pembangunan bandar antariksa pertama Indonesia tengah bergulir dengan Roscosmos, lembaga antariksa Rusia.
“Kalau bisa ikut dalam riset antariksa Rusia, kami akan sangat senang,” kata Handoko. Tak lupa, ia juga menawarkan dukungan pembentukan Center for Russian Studies di BRIN, lengkap dengan kantor dan staf administrasi yang disiapkan oleh pihak Indonesia.
Pada akhirnya, pertemuan di Gedung B.J. Habibie hari itu bukan sekadar kunjungan diplomatik. Ia membuka jalan bagi babak baru hubungan ilmiah dua negara yang pernah sama-sama berguru pada semangat eksplorasi dan inovasi. Dari megasains hingga sejarah, dari nuklir hingga luar angkasa—Indonesia dan Rusia tampak siap menulis ulang peta kerja sama riset global.***




