BRIN Temukan Cadangan Metana Hidrat di Laut Indonesia, Pengganti Bahan Bakar Fosil?

Metena Hidrat , energi masa depan pengganti fosil dan gas alam. -BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkap potensi raksasa “es api” di laut dalam yang volumenya dua kali lipat lebih besar dari cadangan gas alam konvensional nasional.

Indonesia menyimpan harta karun energi alternatif bernilai fantastis di dasar laut sedalam lebih dari 500 meter. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap keberadaan metana hidrat yang diproyeksikan menjadi sumber energi masa depan untuk menggantikan peran bahan bakar fosil.

Lembaga riset nasional tersebut memperkirakan volume cadangan energi ini menembus angka 800 Trillion Standard Cubic Feet (TSCF). Angka tersebut melampaui jauh cadangan gas alam konvensional Indonesia yang saat ini hanya berada di kisaran 345 TSCF. Potensi ini tersebar luas di wilayah laut dalam, terutama di kawasan Indonesia Timur yang secara geologi sangat menjanjikan.

“Cadangan energi ini akan menjadi pahlawan penyelamat ketika minyak dan gas bumi konvensional mulai mengering,” ujar Susilohadi, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, dikutip Selasa (28/4/2026).

Bacaan Lainnya
Mengenal ‘Es Api’ di Dasar Samudra

Metana hidrat merupakan gas metana yang menyatu dengan air dan terperangkap dalam struktur padat menyerupai es. Meski berwujud padat, kandungan energinya sangat pekat. Tim peneliti telah mengidentifikasi keberadaan “es api” ini di beberapa titik strategis, seperti perairan selatan Selat Sunda serta bagian utara dan selatan Selat Makassar.

Pelacakan potensi tersebut dilakukan menggunakan metode pemetaan geofisika melalui survei seismik. Mengingat sepertiga wilayah Nusantara adalah laut dalam, para ilmuwan meyakini peluang menemukan cadangan baru yang belum terungkap masih sangat terbuka lebar bagi ketahanan energi nasional.

Tantangan Teknologi dan Proyeksi 2030

Walaupun menyimpan potensi fantastis, jalan untuk memanen sumber daya ini masih menghadapi tantangan teknologi ekstraksi yang rumit dan biaya operasional tinggi. Saat ini, riset masih bergantung pada pemanfaatan data seismik sekunder karena keterbatasan infrastruktur untuk mengambil data primer langsung dari dasar laut.

Pemerintah berencana mengakselerasi penelitian ini dengan mendatangkan kapal riset modern pada tahun 2029. Fasilitas baru tersebut diharapkan mampu mendorong penelitian mendalam yang diproyeksikan mulai berjalan aktif pada 2030 sebagai pilar utama kemandirian energi di masa depan.***

Pos terkait