Teknologi olahan dolomit menjadi magnesium karbonat dinilai berpotensi menopang industri farmasi, pangan, hingga konstruksi di dalam negeri.
Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan teknologi pengolahan mineral dolomit menjadi magnesium karbonat, senyawa yang banyak digunakan dalam industri farmasi, pangan, hingga konstruksi. Inovasi ini dinilai strategis untuk mendukung hilirisasi mineral nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri bernilai tinggi.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Metalurgi BRIN, Eko Sulistiyono, mengatakan Indonesia memiliki cadangan dolomit melimpah, tetapi selama ini nilai tambah mineral tersebut masih relatif rendah karena belum diolah secara optimal di dalam negeri.
“Dolomit kita melimpah, tetapi nilai tambahnya masih rendah. Melalui teknologi, kita dorong agar mineral ini bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti magnesium karbonat,” ujar Eko seperti dilansir laman BRIN, Selasa (6/5/2026).
Menurutnya, penguasaan teknologi pengolahan menjadi kunci untuk menjawab meningkatnya kebutuhan magnesium karbonat domestik yang saat ini masih didominasi impor dari negara seperti Jepang, Jerman, dan India. Untuk bahan baku sejenis, nilai impor bahkan mencapai puluhan juta dolar AS setiap tahun.
Teknologi yang dikembangkan BRIN memproses dolomit melalui tahapan terintegrasi, mulai dari penghancuran material, kalsinasi suhu tinggi, hingga penggilingan halus. Material tersebut kemudian direaksikan dengan gas CO₂ melalui proses karbonasi untuk membentuk magnesium karbonat.
Tahapan berikutnya meliputi filtrasi, pengendapan, dan pengeringan menggunakan spray dryer guna menghasilkan produk berukuran sangat halus (ultra fine grain) sesuai kebutuhan industri.
Eko menegaskan, keunggulan teknologi ini bukan hanya terletak pada kemampuan produksi, tetapi juga pada kualitas hasil akhir yang konsisten dan kompetitif dibanding produk impor.
“Yang kita kejar bukan hanya produksi, tetapi kualitas yang bisa bersaing dengan produk impor,” katanya.




