Reyfan menjalani rawat inap untuk beberapa lama. Sepanjang bulan Juni – Desember 2022, tiga kali Reyfan masuk-keluar RSCM. Beberapa di antaranya harus rawat inap cukup lama. “Pokoknya saya percaya sama doker. Saya pasrahkan penanganan anak saya. Saya berharap Reyfan bisa sembuh,” kata Rian.
Selama di RSCM, Reyfan terus diobservasi. Tetapi, bukannya membaik, Reyfan malah tambah parah. Syarafnya dinyatakan rusak permanen. Dia tidak bisa bereaksi layaknya bayi normal. Reyfan tidak bisa lagi bernapas secara normal dan tidak bisa makan melalui mulut.
Bayi 18 bulan itu harus makan menggunakan selang yang dimasukkan melalui hidung untuk memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Untuk benapas dan mengeluarkan ludah, dokter melubangi tenggorokan Reyfan dan memasang alat bantu. Kakinya kaku, tidak bisa ditekuk sama sekali. Hancurlah hati Rian dan Resti. Anak pertama harus menanggung nasib seperti itu. Dan sampai saat itu dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Reyfan.
Karena Reyfan harus sering bolak-balik ke RSCM, Rian dan Resti akhirnya pindah dari Tambun, Bekasi, ke kawasan Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat. “Biar lebih dekat kalau mau kontrol dan menerapi Reyfan,” kata Resti. Mereka memutuskan untuk membawa pulang Reyfan ke Kemayoran, sembari terus berkomunikasi dengan dokter di RSCM untuk penanganannya. Ongkos pengobatan memang ditanggung BPJS, namun ongkos wira-wiri harus ditanggung sendiri.
Hingga berbulan-bulan berobat di RSCM, Rian dan Resti belum tahu penyebab kerusakan ginjal pada anaknya. “Bahkan ada dokter yang bilang kalau Reyfan seperti itu karena bawaan lahir. Jelas saya membantah. Saya kenal anak saya. Dia tidak seperti itu sebelum demam dan saya periksakan ke dokter di RS Cibitung,” tegas Resti.
Ternyata, kata Resti, di RSCM banyak bayi yang mengalami masalah serupa Reyfan. Dia mencoba bertanya kepada orang tua pasien lainnya, apa yang terjadi pada anak-anak mereka. Menurut keterangan orang tua pasien lain, anak-anak mereka kemungkinan keracunan obat sirup yang diproduksi salah satu perusahaan obat. Mereka menyebut sebuah merek. Sirup obat itu biasanya diresepkan oleh dokter.
Resti spontan ingat jika Reyfan pernah diberikan obat sirup oleh dokter di RS Cibitung. Sayangnya, botol sirup itu sudah dia buang. Dia lupa mereknya. Untungnya dia pernah memotret resep yang diberikan oleh dokter di RS Cibitung dengan ponselnya. Untungnya lagi, foto resep itu masih tersimpan. Dan ternyata benar, pada kertas resep itu tertulis merek obat sirup yang sama seperti yang disebutkan oleh orang tua pasien lain di RSCM.
Obat itulah yang diminumkan untuk Reyfan dengan harapan panasnya hilang, tetapi pada kenyataannya tidak pernah turun. Malah tambah panas dan bengkak—hingga akhirnya ginjalnya rusak dan harus menggunakan alat bantu untuk makan dan bernapas. Syaraf Reyfan dinyatakan mengalami kerusakan fatal. Dokter memprediksi dia tidak akan bisa hidup normal hingga seterusnya.

“Saya sangat kecewa. Saya sangat percaya kepada dokter yang memberikan obat. Saya sangat percaya pada obat-obatan yang diresepkan untuk anak saya. Saya membawa anak saya ke dokter karena berharap anak saya bakal sembuh. Tetapi, kenyataannya malah seperti ini,” pahit Resti mengenangkan apa yang terjadi pada Reyfan.
Resti hanyalah satu dari ratusan orang tua dari anak-anak yang menjadi korban gagal ginjal akut akibat keracunan obat sirup di Indonesia. Sampai saat ini, Rian, Resti, dan ratusan orang tua lainnya masih berjuang untuk mendapatkan keadilan atas apa yang menimpa anak-anak mereka.
(Pram)
Simak ulasan jalan korban gagal ginjal mencari keadilan di sini





