Sebagai seorang anak wedana, Katjasoengkana tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki intelektual tinggi. Ia memiliki akses untuk membaca berbagai jenis buku, termasuk yang berkaitan dengan bahasa dan filsafat.
Salah satu prestasinya yang diakui sejarah adalah peran Katjasungkana dalam Kongres Pemuda II yang diselenggarakan pada 28 Oktober 1928. Ia berperan sebagai salah satu inisiator dan kontributor utama.
Acara tersebut menghasilkan Sumpah Pemuda. Panitia yang mengelola kongres ini terdiri dari 9 orang, yang dipimpin Soegondo Djoyopuspito. Katjasungkana mewakili organisasi Jong Indonesia, yang didirikan pada Februari 1927.
mg-03
–





