Dalam sistem nilai masyarakat religius seperti Indonesia, haji bukan proyek, melainkan harapan. Dan ketika harapan itu dikomodifikasi, negeri ini tak cuma mencederai hukum, tapi juga amanat Tuhan.
Publik pun bertanya: Akankah Gus Yaqut muncul dan bicara? Atau memilih terus menghilang dalam bayang-bayang?***





