Kampus Bukan Pabrik

Ilustrasi.

Dalam RDPU bersama Komisi X DPR RI di Senayan pada 10 Februari 2026, Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini menyebut PTN—khususnya yang berstatus Berbadan Hukum—telah mengalami distorsi fungsi yang serius.

PTN, katanya, kini lebih menyerupai “industri kursus kuliah massal” daripada pusat riset dan penghasil ilmu pengetahuan. Tekanan mencari pendapatan sendiri membuat kampus negeri berlomba meraup mahasiswa sebanyak-banyaknya.

Dampaknya sudah terlihat di peringkat global: belum ada satu pun kampus Indonesia yang menembus 100 besar dunia, sementara National University of Singapore bertengger di peringkat ke-8 dan Nanyang Technological University di peringkat ke-12.

Bacaan Lainnya

Bagi Didik, akar masalahnya bukan pada jenis prodi yang dibuka. Orientasi kampus sudah melenceng jauh sebelum kebijakan sortasi ini digulirkan.

Jembatan, Bukan Penutupan

Dua suara dari dua forum berbeda itu bertemu pada satu kesimpulan.

Kampus tidak boleh tuli terhadap tuntutan zaman, tetapi menjawab tantangan industri tidak harus berarti mengamputasi ilmu dasar. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang memungkinkan ilmu murni dan ilmu terapan tumbuh berdampingan.

Kampus bukan pabrik. Ia adalah ruang di mana bangsa mempersiapkan bukan hanya pekerja untuk hari ini, tetapi pemikir untuk esok. Pilihan untuk menjaga keseimbangan itu ada sekarang—sebelum pintu-pintu prodi itu ditutup satu per satu.***

Pos terkait