Gangguan Mental dan Emosi Tak Matang
Dari sisi psikologis, judi online tidak hanya merusak dompet, tapi juga kejiwaan. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Diana Savitri Hidayati, menyebut kecanduan judi online sebagai bentuk gangguan. “Sesuatu yang membuat seseorang tidak nyaman saat tidak melakukannya, itu sudah masuk kategori adiksi,” jelasnya.
Menurut Diana—yang akrab disapa Didi—banyak pemain judi online awalnya hanya coba-coba. Namun karena kontrol diri lemah dan emosi tidak matang, mereka terjebak. “Muncul keyakinan tak logis seperti ‘sekali lagi pasti menang’. Inilah yang disebut irrational beliefs,” ujarr Didi dikutip dari laman UMM.
Dalam dunia psikologi, penyembuhan adiksi semacam ini menggunakan pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yakni gabungan terapi kognitif dan perilaku. “Irrational beliefs-nya harus dibenahi dulu, kemudian perilakunya dimodifikasi,” imbuhnya.
Salah satu metode adalah mengurangi paparan terhadap internet dan gadget, sebagai sarana utama akses ke platform judi. Namun, Didi menegaskan, perubahan tidak akan berhasil tanpa kesadaran diri dari yang bersangkutan. “Individu harus sadar bahwa ia butuh bantuan. Tanpa itu, psikolog pun sulit membantu,” katanya.
Kesadaran Digital Jadi Kunci
Meski tantangan besar, Widyanta menilai masih ada secercah harapan. Salah satunya, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dunia digital. Ia menyebut, edukasi digital adalah benteng utama menghadapi gempuran sistem judi online yang terus berkembang. “Ancaman terbesarnya adalah membuat orang bertaruh dengan senang hati, tanpa sadar telah terjebak dalam sistem,” ucapnya.
Tak kalah penting adalah perbaikan regulasi serta penegakan hukum yang lebih tegas. Ia menyinggung fakta bahwa hukum di Indonesia masih kerap “runcing ke bawah”. “Kalau hukum terus dilemahkan, bagaimana kita bisa membasmi korupsi, nepotisme, dan kejahatan digital seperti ini?” tutupnya.
Fenomena judi online sudah jelas bukan lagi masalah pinggiran. Ia telah masuk ke berbagai sektor kehidupan, menyasar anak muda, orang tua, bahkan para elite. Tanpa langkah nyata dan komitmen penuh dari negara, jangan heran jika judol makin merajalela, sementara rakyat makin terjepit.***





