Jombang Melahirkan Banyak Pemberani yang Berkontribusi Besar terhadap NKRI

Dalam konteks wilayah administrasi kenegaraan dan pertumbuhan ekonomi, mungkin saat ini Kabupaten Jombang, Jawa Timur, belum termasuk sebagai “wilayah favorit” di Indonesia. Namun demikian, kabupaten ini menyimpan sejarah besar. Pengaruhnya vital terhadap bangsa dan negara. Banyak tokoh nasional lahir di sini. Para pemberani yang memberikan banyak sekali kontribusi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia alias NKRI.

Beberapa referensi menyebut bahwa nama Jombang merupakan akronim dari kata berbahasa, Jawa “ijo (hijau)” dan “abang (merah)”. Warna ijo mewakili kaum santri yang agamais; sementara abang mewakili kaum nasionalis atau kejawen—yang umumnya identik dengan istilah ‘abangan’. Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan dan harmonis di Jombang. Warna kedua elemen itu bahkan digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang.

Falsafah asal istilah Jombang itu, menurut sosiolog Universitas Darul Ulum Jombang, Dr. Tadjoer Ridjal, muncul karena dalam kultur masyarakat Jawa ada metode pemaknaan dengan metode kira-kira ning nyata (kira-kira tetapi nyata), disingkat “kirata”. Menurutnya, ijo mewakili kultur santri, kaum agamawan, atau lebih spesifik beragama Islam yang berasal dari masyarakat pesisir. Sedangkan abang mewakili kultur masyarakat yang berpaham nasionalis yang berasal dari pedalaman dan berlatar sejarah kejawen (Penerbit Kompas, 2004:386).

Bacaan Lainnya

Budayawan sekaligus intelektual Islam asal Desa Menturo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, pernah menyatakan bahwa dia bangga menjadi orang Jombang. ‘Deklarasi’ itu dia sampaikan dalam sebuah acara bertajuk “Ngaji budaya Cak Nun dan Kiai Kanjeng” bersama seribu reban ISHARI Jombang di Alun-alun Jombang, Sabtu, 21 September 2019. Menurut Cak Nun, Jombang merupakan salah satu penentu berdirinya Republik Indonesia.

“Jombang itu adalah ibu kota spiritual Republik Indonesia. Lah, kenapa Jombang kok harus beriman dan bertakwa? Dari dulu (orang Jombang—red) melarat saja sembahyang (shalat) kok. Sini tidak pernah mengeluh kepada Allah Yang Maha Esa. Meskipun orang penggembala kambing, pintar ngaji Jombang itu. Anak biasa ke sawah bisa mengaji dan jadi imam. Jadi, kalau ada anak Jombang satu ditaruh di Sudan dan Arab Saudi, jadi imam lebih baik daripada Imam Masjidil Haram. Itu beneran. Hanya saja tidak mau mengakui, hanya karena sana punya uang, sini tidak punya,” kata Cak Nun.

Dalam acara tersebut, Cak Nun juga berseloroh: “Secara administratif, Jombang itu bagian dari NKRI. Tetapi, secara sejarah dan substansial, lebih tua mana antara Jombang dan Indonesia? Jombang sangat menentukan berdirinya RI melalui pasukan Mujahidin Ansorullah”.

Pos terkait