Tentang filosofi ijo dan abang dari Kota Jombang, pengasuh Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang KH. Moch. Muchtar Mu’thi juga pernah mewedarnya. Dalam sambutan pada Grand Opening Hotel Yusro, sebuah hotel bintang tiga di kota Jombang, ulama yang akrab disapa Kiai Tar itu menceritakan bahwa pembangunan Hotel Yusro diilhami dari semangat dan keberanian warga Jombang dalam rangka mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Saat itu, bom meletus di kota Surabaya hampir membumihanguskan semua sudut kota. Diperkirakan 160 ribu jiwa menjadi korban waktu itu. Darah mengalir deras hingga sebuah sungai di bawah jembatan berwarna merah pekat. Berduyun-duyun orang bagai semut, berjajar siap mati syahid, 10 November 1945 lalu. Menyimak peristiwa heroik itu, jutaan manusia terkagum-kagum, tak banyak yang sadar bahwa akhirnya Surabaya sebagai Kota Pahlawan tak lepas dari peran orang Jombang. Waktu itu Jenderal Sudirman dan Bung Tomo mohon kepada Kiai Hasyim Asy’ari supaya mengeluarkan fatwa perang suci. Lahirlah fatwa perang suci untuk membela Negara kesatuan Republik Indonesia,” papar Kiai Tar.
Berangkat demi menghormati Jombang sebagai kota penting itulah Kiai Muchtar mengaku mendirikan Hotel Yusro di Jombang.

Saat menyatakan rencananya membangun hotel megah di Jombang, banyak pihak yang meragukan Kiai Tar. Setelah Hotel yang ornamennya mengusung simbol-simbol semangat kenusantaraan dan semua agama ini benar-benar berdiri dan diresmikan oleh Bupati Jombang waktu itu, Suyanto, pada 24 Desember 2011, banyak juga yang terheran-heran.
“Kok beraninya bangun hotel berbintang di Jombang,” cetus seorang tamu undangan saat peresmian.





