Menjawab keraguan banyak orang ini, Kiai Tar menjelaskan dalam pidatonya, “Keberanian warga Jombang dalam kancah nasional bisa dilihat dari bukti sejarah. Selain munculnya perang suci pada tangal 10 November 1945 itu, Jombang juga berperan dalam penyelamatan NKRI terhadap adanya ancaman perpecahan wilayah. Pada tahun 1945, NKRI hampir tidak bisa berdiri, disebabkan beberapa daerah merasa terganjal dengan adanya butir sila pertama yang berbunyi: ‘Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’. Untuk menyelesaikan ancaman perpecahan itu, demi persatuan dan berdirinya NKRI, lima tokoh nasional mengadakan rapat kilat untuk mengganti tujuh kalimat tersebut. Hasilnya, lahirlah tiga kalimat ’ajaib’ yang menjadi pemersatu kerukunan umat beragama. Lahirlah tiga kalimat yang bunyinya: ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Di antara lima orang yang mempunyai jasa besar tersebut salah satunya adalah KH. Wahid Hasyim, seorang ulama dari Jombang. Dari Jombang pula, tahun 1926, lahirlah organisasi Nahdlatul Ulama yang dipelopori oleh Kiai Hasyim Asyari, dan sekarang menjadi organisasi terbesar di Indonesia,” terang Kiai Tar panjang lebar.
Dalam paparannya tersebut, Kiai Tar berusaha menjelaskan bahwa jika disinggung soal keberanian—termasuk keberaniannya membuka hotel berbintang di Jombang—ya, “berani” itu sendiri sudah menjadi “DNA” orang Jombang. Maka Kiai Tar, sebagai orang Jombang, juga menunjukkan keberaniannya dengan caranya sendiri, yaitu membangun hotel berbintang di kabupaten “kelas dua” itu. “Saya tunggu-tunggu, kok enggak ada yang berani (membangun hotel berbintang—red) ya? Lha, saya berani. Lho, kiai kok membangun hotel? Jombang kan ijo-abang. Ijo-abang ya harus berani,” katanya.
Masih terkait keberanian warga Jombang, pada tahun 1999 di Jakarta hampir saja terjadi pertumpahan darah, antara dua kubu yang berbeda dan sudah saling memanas. Kubu dari partai nasionalis melawan kubu dari beberapa partai Islam. Di tengah friksi itu, tampillah putra Jombang dengan berani untuk melerai dua kubu yang bertikai itu. Dialah KH. Abdurrahman Wahid. Tokoh yang beken dengan nama Gus Dur ini berdiri di tengah-tengah pihak yang berhadapan. Upayanya berhasil meredam benturan. Peran putra Jombang ini di kancah politik nasional kemudian mencapai puncaknya ketika diangkat menjadi Presiden ke-4 RI.
Dari Gus Dur si orang Jombang itu juga muncul sebuah keberanian untuk mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14/1967 tentang larangan kegiatan keagamaan agama Kong Hu Chu di Indonesia. Melalui Keputusan Presiden (Keppres)Nomor 6/2000 tertanggal 17 Januari 2000, keberadaan agama Kong Hu Chu di Indonesia secara resmi diakui kembali oleh pemerintah. “Berani. Ini sesuai dengan Jombang, ijo-abang, berani dan benar”, tegas Kiai Muchtar.
Dan sudah jamak diketahui masyarakat Indonesia bahwa Jombang telah melahirkan tokoh-tokoh besar, seperti Hadratus Syekh KH. Hasyim Asyari; KH. Abdul Wahid Hasyim; Nyai Solihah Wahid; KH. Yusuf Hasyim; KH. Abdul Wahab Hasbullah; KH. Abdul Hamid Hasbulllah; KH. Bisri Syansuri; KH. Romli Tamim; KH. Muhammad Wahib Wahab; KH.Asad Umar; KH Abdul Mu’thi; KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur; KH. Moch. Muchtar Mu’thi; KH Sholahuddin Wahid; Nurcholish Madjid; Shinta Nuriyah Wahid; Emha Ainun Nadjib; hingga Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Dari Jombang juga lahir beberapa seniman berkarakter, seperti Cak Durasim, Asmuni, dan Gombloh.
Nah, untuk merawat kembali sejarah jasa Jombang yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar itu, Samudra Fakta akan menyajikan artikel berseri tentang tokoh-para pemberani dari Jombang, Jawa Timur.
Jangan sampai ketinggalan ya, Rek!—bersambung—
(Wijdan | Diolah dari berbagai sumber)





