Di tengah dinamika politik ibu kota—yang selalu sarat perhitungan dan simbol—proyek ini juga menjadi panggung awal kepemimpinannya. Publik tentu akan menilai bukan hanya dari seremoni peletakan batu pertama, melainkan dari hasil akhir pada 2027 nanti.
Apakah Semanggi benar-benar menjadi “etalase baru”? Ataukah ia sekadar proyek fisik tanpa ruh?
Jawabannya akan terlihat ketika warga kembali duduk di bangku-bangku taman, ketika anak-anak berlari di antara pepohonan, ketika ruang itu menjadi milik bersama, bukan hanya milik investor atau pemerintah.
Jakarta, menjelang usia 500 tahun, sedang menata ulang wajahnya. Dan di simpang Semanggi—yang selama ini identik dengan arus kendaraan dan beton—ia mencoba menanam ulang harapan, sehelai demi sehelai, di atas enam hektare tanah kota.***





