Warga Jakarta mengeluhkan susahnya mencari ojek online (ojol) belakangan ini. Fenomena “krisis ojol” ini terjadi jelang Lebaran.
Belakangan ini, warganet di media sosial seperti Instagram dan X ramai mengeluhkan betapa sulitnya mendapat pengemudi ojek online (ojol).
Selain susah mendapatkan pengemudi, pelanggan juga sering kali mendapati pesanan mereka dibatalkan atau pengemudi bergerak sangat lambat menuju titik jemput. Warganet kemudian melabeli situasi ini sebagai fenomena “krisis ojol”.
Mengapa mencari ojol saat ini terasa sangat sulit?
Faktor pertama berasal dari perhitungan tarif dan jarak penjemputan. Rian (46), seorang pengemudi ojol, menyatakan bahwa keberadaan program diskon atau tarif hemat membuat pengemudi lebih ketat menyortir pesanan.
Rian menilai tarif hemat sekitar Rp10.000 sering kali tidak sepadan dengan jarak penjemputan yang jauh, apalagi jika jalanan Jakarta sedang macet parah.
”Saya contohkan, kalau kondisi kita menjemput penumpang yang lokasinya sejauh 3 km, padahal nganter itu cuma 1 km, tapi jalanan macet, dan ada lampu merah lama. Bisa jadi total jarak tempuh keseluruhan 4 km. Kalau macet lebih lama, jadinya kita kayak motoran 6 Km,” ungkap Rian, Jumat (13/3/2026).
Oleh karena itu, mematikan aplikasi (off bid) menjadi pilihan paling masuk akal bagi banyak pengemudi untuk menghindari kerugian waktu dan tenaga. Saipul (52), pengemudi di kawasan Pasar Minggu, juga melakukan langkah serupa. Ia tanpa ragu mematikan aplikasi saat hujan deras atau ketika sistem membagikan pesanan secara acak dari jarak jauh (blasting).
”Kalau sudah blasting, mendingan kita off bid, atau berani cancel. Saya begitu, biasanya langsung off bid. Sudah hafal saya kalau blasting,” tutur Saipul.
Musim Mudik Kurangi Armada
Selain masalah tarif dan cuaca, momen menjelang Idulfitri juga memangkas jumlah armada yang beroperasi di jalan. Rahman, seorang pengemudi yang kerap mangkal di Stasiun Dukuh Atas, menyebut banyak rekannya sudah pulang kampung.
Akibatnya, jumlah pengemudi yang siaga (standby) di titik-titik strategis menurun drastis. Jika biasanya ada lima pengemudi lebih di shelter, kini hanya tersisa dua atau tiga orang.





