​Ramai Keluhan “Krisis Ojol” di Jakarta, Aplikator dan Driver Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi ojek online. - SHUTTERSTOCK/GeorginaCaptures
Warga Jakarta mengeluhkan susahnya mencari ojek online (ojol) belakangan ini. Fenomena “krisis ojol” ini terjadi jelang Lebaran.

​Belakangan ini, warganet di media sosial seperti Instagram dan X ramai mengeluhkan betapa sulitnya mendapat pengemudi ojek online (ojol).

Selain susah mendapatkan pengemudi, pelanggan juga sering kali mendapati pesanan mereka dibatalkan atau pengemudi bergerak sangat lambat menuju titik jemput. Warganet kemudian melabeli situasi ini sebagai fenomena “krisis ojol”.

Mengapa mencari ojol saat ini terasa sangat sulit?

Bacaan Lainnya

Faktor pertama berasal dari perhitungan tarif dan jarak penjemputan. Rian (46), seorang pengemudi ojol, menyatakan bahwa keberadaan program diskon atau tarif hemat membuat pengemudi lebih ketat menyortir pesanan.

Rian menilai tarif hemat sekitar Rp10.000 sering kali tidak sepadan dengan jarak penjemputan yang jauh, apalagi jika jalanan Jakarta sedang macet parah.

​”Saya contohkan, kalau kondisi kita menjemput penumpang yang lokasinya sejauh 3 km, padahal nganter itu cuma 1 km, tapi jalanan macet, dan ada lampu merah lama. Bisa jadi total jarak tempuh keseluruhan 4 km. Kalau macet lebih lama, jadinya kita kayak motoran 6 Km,” ungkap Rian, Jumat (13/3/2026).

​Oleh karena itu, mematikan aplikasi (off bid) menjadi pilihan paling masuk akal bagi banyak pengemudi untuk menghindari kerugian waktu dan tenaga. Saipul (52), pengemudi di kawasan Pasar Minggu, juga melakukan langkah serupa. Ia tanpa ragu mematikan aplikasi saat hujan deras atau ketika sistem membagikan pesanan secara acak dari jarak jauh (blasting).

​”Kalau sudah blasting, mendingan kita off bid, atau berani cancel. Saya begitu, biasanya langsung off bid. Sudah hafal saya kalau blasting,” tutur Saipul.

​Musim Mudik Kurangi Armada

Selain masalah tarif dan cuaca, momen menjelang Idulfitri juga memangkas jumlah armada yang beroperasi di jalan. Rahman, seorang pengemudi yang kerap mangkal di Stasiun Dukuh Atas, menyebut banyak rekannya sudah pulang kampung.

​Akibatnya, jumlah pengemudi yang siaga (standby) di titik-titik strategis menurun drastis. Jika biasanya ada lima pengemudi lebih di shelter, kini hanya tersisa dua atau tiga orang.

​”Yang lain sudah pulang ke Cilacap, ada ke Karanganyar ya kalau rekan-rekan di sini. Ke Jawa lah pokoknya,” kata Rahman.

Ia menambahkan, kondisi ini membuat pelanggan harus menunggu lebih lama, terutama saat jam sibuk pulang kantor.

​Respons Grab dan Gojek

Menanggapi keluhan masyarakat luas, pihak penyedia layanan (aplikator) akhirnya angkat bicara. Director of Mobility, Food, & Logistics Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, memastikan layanan Grab tetap beroperasi normal. Ia menyebut waktu tunggu yang lama terjadi akibat lonjakan permintaan yang berbenturan dengan cuaca ekstrem dan kemacetan.

​”Kami terus berkomitmen memastikan semua layanan kami dapat digunakan secara optimal oleh pengguna dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan bagi para Mitra Pengemudi, Mitra Merchant, serta bagi pengguna, terutama di momen jelang Idulfitri,” kata Tyas, Rabu (11/3/2026). Saat ini, tim operasional Grab terus menyeimbangkan ketersediaan mitra di lapangan.

​Hal senada disampaikan oleh Head of Driver Operations Gojek, Bambang Adi Wirawan. Bambang menyoroti adanya perubahan pola pemesanan selama bulan Ramadan. Jam sibuk yang biasanya terjadi sore hari kini maju menjadi pukul 15.30 WIB dan memuncak hingga pukul 18.00 WIB.

​“Kami memahami bahwa pada periode akhir Ramadhan, sebagian mitra driver Gojek, terutama yang beroperasi di kota-kota besar ada yang sudah mudik dan memilih menghabiskan waktu bersama keluarganya,” jelas Bambang. Ia memprediksi mitra pengemudi akan kembali beraktivitas normal pada minggu pertama hingga kedua setelah Lebaran.

Kesimpulannya, fenomena “krisis ojol” di Jakarta bukanlah sekadar masalah eror pada sistem aplikasi, melainkan akumulasi dari berbagai faktor riil di lapangan. Perpaduan antara lonjakan pesanan jelang jam buka puasa, cuaca buruk, skema tarif yang pengemudi anggap kurang ideal, hingga banyaknya armada yang mudik lebih awal, membuat pelanggan mau tidak mau harus menyetok kesabaran ekstra saat memesan ojol di jam-jam sibuk.***

Pos terkait