ITS Pasang Instalasi Air Bersih Inovatif di Pidie Jaya Aceh

Instalasi air bersih ITS
Instalasi penjernih air hasil inovasi pakar dari Departemen Teknik Lingkungan ITS saat dioperasikan di Pesantren Raudhatul Mukarramah Al Aziziyah, Pidie Jaya, Aceh. - Humas ITS
Institut Teknologi Sepuluh Nopember menghadirkan instalasi pemurnian air di Pidie Jaya, Aceh. Teknologi elektrokoagulasi mampu mengubah air sungai keruh menjadi air bersih hingga 2.000 liter per jam untuk membantu warga terdampak bencana.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meresmikan instalasi air bersih inovatif di daerah bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh. Instalasi tersebut dibangun di Pesantren Raudhatul Mukarramah Al Aziziyah, Kabupaten Pidie Jaya.

Proyek ini dihadirkan sebagai solusi bagi warga yang kesulitan mendapatkan air bersih akibat dampak bencana yang melanda wilayah tersebut.

Wakil Kepala Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan (PILB) ITS, Dr. Catur Arif Prastyanto, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi dilakukan melalui diskusi panjang antara Tim Tanggap Bencana ITS dan Universitas Syiah Kuala (USK).

Bacaan Lainnya

“Penentuan lokasi di Kabupaten Pidie Jaya tersebut mempertimbangkan kedekatan dengan sumber air baku serta kemudahan operasional dan perawatan,” terang dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut, Selasa (10/3/2026).

Teknologi Ubah Air Keruh Jadi Air Bersih

Menurut Catur, inovasi instalasi ini merupakan hasil pemikiran dua pakar Departemen Teknik Lingkungan ITS, yakni Prof. Arseto Yekti Bagastyo, S.T., M.T., M.Phil., Ph.D. dan Ervin Nurhayati, S.T., M.T., Ph.D.

Sistem tersebut mampu mengubah air sungai yang keruh menjadi air bersih dengan kapasitas mencapai 2.000 liter per jam.

Alat ini dirancang untuk beroperasi secara kontinyu. Namun dalam kondisi ideal, sistem biasanya dijalankan selama 8 hingga 10 jam per hari, bergantung pada ketersediaan air baku serta kebutuhan distribusi.

Catur menjelaskan bahwa efisiensi alat ini berasal dari metode pemurnian yang menggunakan prinsip elektrokoagulasi untuk menurunkan tingkat kekeruhan air tanpa bahan kimia.

Setelah proses tersebut, pemurnian dilanjutkan dengan penyaringan menggunakan membran.

“Karena tidak menggunakan bahan kimia untuk menurunkan kekeruhan yang tinggi, biaya operasionalnya bisa menjadi sangat murah,” ungkapnya.

Pos terkait