Alumnus ITS Roikhanatun Nafi’ah menjuarai 13th World Bank Group Youth Summit. Ia menciptakan inovasi tambak cerdas berbasis AIoT dan surya.
Alumnus Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengukir prestasi gemilang di tingkat global. Mengusung inovasi teknologi di bidang budidaya perikanan, Roikhanatun Nafi’ah selaku Founder dan CEO Crustea Indonesia berhasil menyabet Juara 1 pada gelaran 13th World Bank Group Youth Summit di Washington DC, Amerika Serikat, baru-baru ini.
Sosok yang akrab disapa Nafi’ ini menawarkan solusi tambak cerdas bagi para petambak skala kecil melalui ekosistem Crustea Indonesia. Bersama rekannya, Prisma Riashuda Prakosa—alumnus Departemen Teknik Elektro ITS—keduanya secara konsisten mendampingi para petambak yang sering terbentur masalah gagal panen, keterbatasan akses listrik, hingga tingginya biaya operasional.
“Jadi kami membangun solusi dari masalah yang kami alami sendiri sebagai petambak,” tutur Nafi’, Rabu (22/7/2026).
Dua Masalah Utama, Satu Solusi Cerdas
Nafi’ membeberkan bahwa penyebab utama kegagalan panen petambak di lapangan sering kali bermula dari rendahnya kadar oksigen terlarut dalam air. Di sisi lain, tingginya biaya energi untuk menyalakan pompa dan generator menjadi beban operasional yang sangat memberatkan.
Mengandalkan latar belakang keilmuan Teknik Industri, Nafi’ menciptakan teknologi terpadu yang sanggup meningkatkan kualitas air sekaligus memangkas biaya energi secara signifikan selama masa budidaya.
“Untuk mengatasi masalah efisiensi dan produksi, Crustea Indonesia mengembangkan ekosistem budidaya berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) dan energi terbarukan,” terangnya.
Guna menjaga kualitas air, Nafi’ menghadirkan Eco-Aerator bertenaga surya. Perangkat ini mampu menghasilkan pasokan oksigen yang lebih stabil dengan konsumsi energi yang jauh lebih hemat, sehingga sangat ideal untuk area tambak yang belum terjangkau aliran listrik.
“Aerator cerdas ramah lingkungan ini menghasilkan oksigen secara stabil dan lebih tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik PLN maupun BBM,” ungkap Nafi’.
Tidak hanya itu, Crustea Indonesia juga melengkapi ekosistem ini dengan sistem AIoT untuk memantau serta mengendalikan kondisi air secara otomatis. Parameter seperti kadar oksigen, suhu, pH, hingga tingkat salinitas dibaca secara real-time. Saat kadar oksigen menurun, aerator akan menyala secara otomatis, dan bakal mati dengan sendirinya begitu kondisi air kembali ideal. Mekanisme ini membuat penggunaan energi menjadi sangat efisien.
Pengembangan teknologi ini juga dilengkapi sistem manajemen energi pintar yang memantau konsumsi listrik, memungkinkan pengendalian jarak jauh, serta memberikan peringatan dini jika terjadi kendala teknis.
“Kami menekankan bagaimana agar teknologi harus membantu petambak bekerja lebih efisien, bukan menambah beban mereka,” tegas Nafi’.





